Songkolo Bandang, Kue Jadul yang Masih Bertahan

Ilustrasi Songkolo Bandang - (int)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di sela hiruk pikuk jajanan kekinian yang memenuhi etalase toko dan linimasa media sosial, ada satu kudapan yang tetap setia hadir dengan wajah sederhananya,  ya Songkolo Bandang.

Namanya mungkin tak seakrab pisang epe atau es pisang ijo bagi telinga wisatawan, tetapi bagi masyarakat Bugis-Makassar, kue ini adalah bagian dari memori masa kecil—jajanan yang dulu mudah dijumpai di pasar tradisional, kini justru makin jarang ditemui penjualnya.

Sekilas, Songkolo Bandang terlihat seperti gulungan lontong mini. Warnanya bisa putih polos, atau berpadu hijau dan merah muda dari pewarna makanan maupun sari daun pandan yang ditambahkan ke dalam adonan.

Begitu digigit, teksturnya kenyal namun lembut, dengan rasa manis legit dari pisang yang berpadu gurih asin dari taburan kelapa parut di lapisan luarnya.

Cara membuatnya sebenarnya tidak rumit. Singkong dikupas, dicuci, lalu diparut halus, kemudian dicampur sedikit garam dan gula agar rasanya seimbang.

Adonan singkong ini kemudian dipipihkan dan dijadikan pembungkus potongan pisang—biasanya pisang raja atau pisang kepok yang sudah matang—sebelum digulung memanjang menyerupai lontong.

Beberapa pembuat rumahan membungkusnya dengan daun pisang agar bentuknya tetap rapi selama dikukus sekitar 15 hingga 25 menit hingga matang.

Setelah diangkat dari kukusan, kue dipotong-potong dan dibaluri kelapa parut yang sebelumnya juga dikukus bersama sedikit garam agar lebih gurih. Beberapa resep bahkan menambahkan taburan gula pasir sesaat sebelum disajikan, memberi sensasi manis yang meletup di gigitan pertama.

Perpaduan tiga bahan utama ini—singkong, pisang, dan kelapa—membuat Songkolo Bandang punya karakter rasa yang khas: manis, legit, kenyal, sekaligus gurih dalam satu suapan.

Menariknya, di banyak daerah Sulawesi Selatan, kue ini lebih dikenal dengan sebutan "kue janda". Julukan ini sempat membuat orang bertanya-tanya soal asal-usulnya, tetapi berbagai catatan kuliner masyarakat menegaskan bahwa nama tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan status sosial perempuan atau makna tertentu tentang seorang janda.

Nama itu lebih merupakan sebutan populer yang berkembang dari mulut ke mulut, dan sebaiknya dipahami sebagai bagian dari tradisi lisan masyarakat, bukan asal-usul resmi yang terdokumentasi.

Beberapa penikmat kuliner bahkan menyebut Songkolo Bandang mirip dengan kue putri noong atau mata roda yang dikenal di daerah lain, meski dengan sedikit perbedaan cara penyajian.

Di Makassar, misalnya, kue ini umumnya tidak dibungkus daun pisang saat disajikan, dan taburan gula pasirnya baru ditambahkan ketika kue siap dinikmati.

Nama Songkolo Bandang sendiri kerap membuat orang keliru mengira kue ini terbuat dari beras ketan, karena kata "songkolo" dalam bahasa lokal memang identik dengan ketan putih atau ketan hitam. Padahal, bahan utamanya justru singkong—bukan beras sama sekali.

Songkolo Bandang tercatat sebagai salah satu kue tradisional khas Bugis-Makassar dalam berbagai kajian tentang gastronomi Makassar, dan turut diperkenalkan pemerintah Kabupaten Gowa dalam kegiatan promosi kuliner dan produk UMKM daerah.

Di Kabupaten Maros, kue ini juga tercatat berdampingan dengan barongko sebagai bagian dari kekayaan kuliner lokal yang terus dijaga.

Jejaknya bahkan tidak berhenti di satu wilayah saja. Sebuah penelitian mengenai makanan tradisional empat etnis di Sulawesi Selatan mencatat "bandang-bandang"—nama yang mirip—sebagai makanan tradisional masyarakat Bugis di Barru, Bone, dan Bulukumba.

Hal ini menunjukkan bahwa tradisi pangan masyarakat Bugis tidak terkurung batas administratif; resep, nama, dan cara penyajiannya bisa saja berkembang dan berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lain, meski akarnya tetap sama.

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, kue tradisional seperti ini tidak pernah sekadar soal mengisi perut. Ia hadir dalam tradisi menerima tamu, dibawa dalam bosara sebagai bagian dari penghormatan kepada yang berkunjung, dan menemani berbagai perayaan keluarga.

Dari situ, Songkolo Bandang menjelma menjadi lebih dari sekadar camilan—ia adalah bagian kecil dari cara masyarakat Bugis-Makassar merawat kebersamaan.

Kesederhanaan bahannya justru menjadi kekuatan tersendiri. Singkong yang mudah ditemukan, pisang yang memberi rasa manis alami, dan kelapa yang menghadirkan gurih di lapisan luar, menyatu tanpa proses rumit—sebuah gambaran kecil tentang bagaimana sesuatu yang berbeda bisa menjadi satu ketika dipersatukan.

Ini bukan filosofi adat yang terdokumentasi secara resmi, melainkan lebih tepat dibaca sebagai interpretasi atas karakter kulinernya sendiri.

Sejumlah pembuat rumahan menyebutnya "kue jadul"—jajanan lawas yang penjualnya kian sulit dicari. Tak sedikit yang mulai membuatnya sendiri di rumah, memanfaatkan singkong yang menganggur di dapur agar tak terbuang percuma, sembari melestarikan resep yang dulu diwariskan orang tua.

Di tengah gempuran jajanan kekinian dengan kemasan menarik dan promosi gencar di media sosial, Songkolo Bandang tetap tampil apa adanya, tanpa kemasan rumit, tanpa bahan mahal, tanpa teknik memasak yang muluk-muluk. Cukup singkong, pisang, kelapa, sedikit garam dan gula, lalu dikukus.

Namun justru dari kesederhanaan itulah kue ini bertahan. Ia hidup bukan karena dibuat mewah, melainkan karena rasa dan kenangan yang terus dicari orang—rasa yang mengingatkan pada dapur nenek, pada jajanan pasar pagi, dan pada cara masyarakat Bugis-Makassar menjaga identitas kulinernya lewat sesuatu yang sesederhana gulungan singkong dan pisang.