Hari Pers Nasional 2026: Dari Sejarah hingga Maskot Badak Jawa

Surat kabar Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementen yang disebut jadi cikal bakal perkembangan media di nusantara - (foto by Dok. Kemenkeu)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Hari Pers Nasional (HPN) kembali diperingati pada 9 Februari 2026. Tahun ini, perhelatan tahunan insan pers Indonesia tersebut dipusatkan di Provinsi Banten, daerah yang sarat sejarah dan kearifan lokal. 

Mengusung tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”, HPN 2026 tidak sekadar seremoni, tetapi refleksi peran pers di tengah tantangan zaman.

Ada sejumlah fakta menarik yang membuat peringatan HPN tahun ini layak disorot lebih dalam, mulai dari asal-usulnya, makna tema, hingga simbol budaya yang dihadirkan panitia.

1. Diperingati Sejak Era Orde Baru

Tak banyak yang tahu, Hari Pers Nasional secara resmi ditetapkan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985. Tanggal 9 Februari dipilih karena bertepatan dengan hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), organisasi wartawan tertua dan terbesar di Tanah Air.

Sebelum diresmikan lewat Keppres, gagasan HPN telah dibahas sejak Kongres PWI ke-28 di Padang pada 1978 dan mendapat persetujuan Dewan Pers pada 1981.

2. Akar Pers Indonesia Sudah Ada Sejak Zaman Kolonial

Sejarah pers Indonesia jauh lebih tua dari usia kemerdekaan. Salah satu surat kabar pertama yang terbit di Nusantara adalah Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementen pada 1744. Meski masih berada di bawah kendali kolonial, media cetak kala itu menjadi pintu awal berkembangnya tradisi jurnalistik.

Tonggak pers nasional modern lahir pada 1907 lewat Medan Prijaji yang dipelopori Tirto Adhi Soerjo. Media ini dianggap sebagai koran pertama yang dikelola dan dimiliki oleh pribumi, sekaligus menjadi simbol perlawanan intelektual terhadap kolonialisme.

3. Pers Pernah Jadi Alat Propaganda

Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, pers Indonesia kehilangan independensinya. Media dijadikan alat propaganda dengan terbitnya surat kabar regional seperti Jawa Shinbun dan Sumatra Shinbun. Meski demikian, fase ini justru melahirkan kesadaran akan pentingnya pers sebagai alat perjuangan bangsa.

Tak lama berselang, berdiri lembaga-lembaga penting seperti LKBN Antara (1937), RRI (1945), dan PWI (1946) yang hingga kini menjadi pilar utama ekosistem media nasional.

4. Banten dan Maskot “Si Juhan”

HPN 2026 semakin menarik karena digelar di Banten dan menghadirkan maskot khas bernama “Si Juhan”, seekor Badak Jawa. Hewan endemik tersebut melambangkan keteguhan, ketahanan, serta kearifan lokal masyarakat Banten.

Pemilihan maskot ini bukan sekadar simbol visual, tetapi pesan filosofis tentang pers yang kokoh menghadapi tekanan zaman, sekaligus tetap membumi dengan nilai-nilai lokal.

5. Makna Tema HPN 2026

Tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat” memuat pesan strategis tentang masa depan pers Indonesia.

Pers sehat dimaknai sebagai media yang profesional, independen, dan beretika. Sementara ekonomi berdaulat menekankan pentingnya kemandirian bisnis media agar tidak mudah diintervensi kepentingan tertentu. Adapun bangsa kuat menggambarkan peran pers dalam menjaga persatuan dan mendorong kemajuan melalui informasi yang edukatif dan konstruktif.

Di tengah disrupsi digital dan tekanan ekonomi global, tema ini menjadi pengingat bahwa pers bukan sekadar industri, melainkan pilar demokrasi.