Dodor Bacan, Kue Keranjang Legendaris di Makassar
Dodor Bacan, Kue Keranjang Legendaris di Makassar - (foto by Rifki)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Aroma manis gula yang menguap dari kukusan besar menyambut siapa saja yang melangkah ke Grandma's Recipe, yang lebih dikenal warga sebagai Dodor Bacan, di Pasar Bacan, Jalan Bacan, Makassar, Rabu (11/2/2026).
Di tempat inilah kue keranjang khas Imlek diproduksi turun-temurun selama sekira 50 tahun, dan kembali diburu jelang Tahun Baru Imlek.
Menjelang puncak perayaan, pesanan terus mengalir. Anastasia, staf Grandma's Recipe, menyebut lonjakan pesanan terasa pada 13 hingga 15 Februari. “Kalau tanggal 15-nya bisa 100 kilogram lebih, satu kiloannya harganya Rp80 ribu,” ujarnya.
Usaha keluarga itu awalnya dikenal dengan nama Dodor Bacan, merujuk pada kawasan tempatnya berdiri. Nama Grandma's Recipe baru belakangan digunakan, namun resepnya tetap sama yakni warisan dari generasi sebelumnya.
“Sudah lama sekali, sudah puluhan tahun, dari oma. Usaha keluarga turun temurun,” kata Anastasia.
Kue keranjang atau nian gao ini memang hanya diproduksi menjelang Imlek. Bahan utamanya sederhana, gula pasir putih dan ketan. Adonan dimasukkan ke dalam loyang berbentuk keranjang, lalu dikukus selama 9 hingga 10 jam. Proses panjang itu mengubah warna adonan dari putih menjadi cokelat pekat dan menghasilkan tekstur kenyal yang khas.
“Dimasaknya dikukus, dikasih masuk ke dalam keranjangnya, terus dikukusnya bisa 9–10 jam. Makanya dia dari warna putih kan, tepung dan gula pasir itu jadi bisa sampai warna cokelat,” jelasnya.
Bagi masyarakat Tionghoa, kue keranjang bukan sekadar penganan manis. Ia menjadi bagian dari ritual sembahyang saat Imlek, sekaligus simbol harapan akan kehidupan yang lebih baik. Rasa manisnya dimaknai sebagai lambang 'progress', 'advancement', dan 'growth' di tahun yang baru.
Produksi yang bersifat musiman justru membuat kue ini semakin dicari. Selain pelanggan lama di Makassar, pesanan juga datang dari luar kota seperti Balikpapan dan Palu. Sebagian pembeli memesan melalui WhatsApp dan Instagram, meski layanan ojek online belum tersedia.
“Pesanan ada juga dari luar kota, biasanya keluarganya yang bantu pesankan,” tutur Anastasia.
Meski tahun ini penjualan disebut mengalami peningkatan, angkanya belum melonjak signifikan. Pihak toko pun tidak menetapkan target khusus. “Target penjualan belum ada sih, pokoknya sesuai pesanan aja biar gak terlalu berlebihan,” katanya.
Di tengah geliat pesanan itu, Grandma's Recipe juga tengah mengurus izin Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) agar produknya bisa dipasarkan lebih luas di toko-toko.
Namun bagi mereka, dodor tetaplah sajian khas yang identik dengan suasana perayaan. “Jadi dia lebih ke festive sih, Imlek carinya di sini,” ujar Anastasia.
Di sudut toko, Vince, seorang warga Makassar, tampak memesan lima potong kue keranjang yang baru dibelinya. Ia mengaku setiap tahun datang ke tempat yang sama.
“Memilih membeli dodor keranjang karena sudah tradisi setiap tahun, belinya lima pieces. Dipakai buat sembahyang, sesudah sembahyang dimakan,” katanya.
Ia menambahkan, makna kue keranjang selalu lekat dengan harapan baik. “Maknanya maksudnya kue keranjang itu identik dengan manis, jadi maksudnya semua itu berjalan dengan baik dan manis, begitu,” tuturnya.
Memasuki Tahun Kuda Api, Anastasia berharap perputaran ekonomi semakin membaik sehingga usaha kecil seperti miliknya ikut berkembang.
Di tengah modernisasi dan ragam pilihan kue kekinian, kukusan besar di Pasar Bacan itu terus mengepul setiap jelang Imlek dengan menjaga rasa, tradisi, dan harapan yang diwariskan lintas generasi.
Laporan: Rifki
