KOLOM ANDI SURUJI: Surat Gubernur NA dan 'Angel Number'

Nurdin Abdullah (foto: int)

SEORANG pengusaha mengirimi saya pesan melalui whatsapp. Pesan pertama dokumen. Disusul pesan kedua. "Angel number," tulisnya.

Ah, angka apalagi itu. Apakah jumlah korban Covid-19, atau angka kurs Dollar-Rupiah yang lagi gonjang-ganjing? Atau angka fengsui?

Saya tanya oom Google, ada memang. Angel numbers are sequences of numbers that carry divine guidance by referring to specific numerological meanings.

Sederhananya, nomor malaikat yang terdiri dari angka-angka keramat sarat makna dan petunjuk. Kira-kira begitulah.

Angka-angka seperti itu juga lazim digunakan masyarakat sejak zaman purba sampai era modern. Angka 7 (tujuh) misalnya supaya fokus (mattuju). Angka 6 (dihindari) karena menyesal (enneng - manenneng). Dan banyak lagi.

Saya masih penasaran angka apa yang dimaksud sang pengusaha. Saya buka pesan pertama, isinya surat Gubernur Nurdin Abdullah kepada pengusaha. Saya buka lampirannya, ternyata berisi daftar 259 instansi pemerintah, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, kalangan dunia usaha.

Ternyata angka 259 itu yang dimaksud teman saya sebagai angel number. Googling lagi.

Angel Number 259 is a message from your angels to maintain faith, trust and a positive attitude and perspective in regards to the life changes you are currently undergoing....

Angel Number 259 may also suggest that changes made to your career or profession will bring you greater personal fulfilment on many levels.

Ah mungkin kebetulan saja. Itu kan cuma lampiran. Saya kontak balik teman saya. Dia ngomel-ngomel.

"Kita ini pengusaha yang paling terpukul dengan Covid ini. Bisnis mati, karyawan harus dipikirkan. Kami juga sudah berbagi. Masih dimintai pula. Gak berubah kelakuan birokrat dari dulu," katanya.

Seorang pensiunan birokrat senior ketika saya tunjukkan surat itu, menilai upaya gubernur menghimpun dana dengan menyurati langsung berbagai kalangan itu sebagai cara "memalak".

"Mustinya Gubernur justru merancang insentif bagi pengusaha agar usahanya tetap jalan, supaya tidak melakukan pemutusan hubungan kerja bagi pekerjanya. Itu sudah sangat berarti dan meringankan pengusaha sekaligus membantu pemerintah mengeliminir potensi kerawanan sosial," kata birokrat senior tersebut.

Ketua Komisi A DPRD Sulsel yang membidangi antara lain pemerintahan, Selle KS Dalle, jelas menuding upaya Gubernur tersebut sebagai langkah keliru dan membingungkan. Itu jelas meminta dana ke pengusaha karena mencantumkan nomor rekening Bank Sulsel Peduli Covid-19.

Kecuali berpotensi mengandung unsur benturan kepentingan (conflict of interest), upaya Gubernur NA tersebut juga menabrak tata kelola pemerintahan dan tata aturan keuangan daerah (good governance).

"Kalau pengusaha yang berinisiatif menyumbang ke pemerintah itu hal baik. Tetapi, kalau pemerintah yang proaktif meminta, itu keliru," katanya.

Kepala Biro Ekonomi Pemprov Sulsel, Since Erna Lamba, mengatakan, surat itu untuk meminta CSR (corporate social responsibility) supaya terkoordinasi bantuan, jangan jalan sendiri-sendiri.

Gubernur NA, yang dijuluki pemujanya "Gubernur Andalan" dan "Professor Andalan", boleh saja menggunakan kekuasaan dan kewengannya untuk menempuh berbagai upaya dalam mengatasi persoalan penyebaran wabah virus yang semakin meluas di wilayah ini.

Akan tetapi janganlah sewenang-wenang karena langkah itu berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari. Setidaknya, saat ini telah menimbulkan kesan dan persepsi keliru di masyarakat.

Mengapa tidak, selaku Ketua Gugus Tugas Pencegahan Penyebaran Virus Corona, Sulsel Peduli Covid-19, Gubernur lebih kreatif sedikit. Misalnya, menggelar video call, meeting webiner yang bisa sekaligus melibatkan 100 pengusaha.

Tim Sulsel Peduli Covid memaparkan program kerja, kebutuhan dana sampai batas tertentu dengan beberapa skenario (dari the worse scenario sampai yang optimistik) berikut rasionalitas langkah-langkahnya.

Cara kreatif dan lebih inovatif itu saya yakin lebih elegan, profesional, clear n clean, transparan, akuntabel, dan mendorong serta membangkitkan rasa kebersamaan, solidaritas dan soliditas membantu sesama, atas nama kemanusiaan.

Ketimbang menerbitkan selembar surat yang justru menimbulkan kesan negatif, "memalak" dan "menodong" pengusaha. Bahkan terkesan, tidak lebih canggih dari cara kerja-kerja mahasiwa melakukan pengumpulan dana kemanusiaan.*