KNKT Terima Black Box ATR 42-500, Investigasi Dipercepat

Basarnas serahkan black box pesawat ATR 42-500 ke KNKT, Kamis (22/1) - (foto by Rifki)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menyerahkan black box pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport PK-THT kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). 

Penyerahan balck box ini menjadi titik krusial dalam upaya mengungkap penyebab jatuhnya pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1).

Prosesi penyerahan berlangsung di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kamis (22/1) siang. 

Kepala Basarnas Nasional, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyerahkan kotak hitam tersebut kepada Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, disaksikan Gubernur Sulawesi Selatan A. Sudirman Sulaiman, Wakil Menteri Perhubungan Suntana, serta jajaran TNI dan Polri.

Ditemukannya black box diharapkan dapat mempercepat proses investigasi kecelakaan udara yang menewaskan sejumlah korban tersebut.

“Pada hari ini secara resmi, saya Kabasarnas Nasional telah menerima black box dari teman-teman SAR di lapangan, dan akan kita serahkan secara resmi kepada KNKT. Terlepas dari temuan-temuan yang lain, ada body part dari pesawat, body part dari korban, akan kita serahkan ke tim DVI,” kata Syafii kepada awak media.

Black box tersebut menjadi kunci utama untuk mengungkap penyebab kecelakaan secara akurat dan berbasis data.

“Nanti hasil dari KNKT berupa investigation report dan ada beberapa rekomendasi-rekomendasi,” jelas Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono.

Black box pesawat ditemukan pada hari kelima operasi pencarian, Rabu (21/1) sekitar pukul 11.00 WITA, di jurang Gunung Bulusaraung. Perangkat tersebut terdiri dari Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR) yang berada di bagian ekor pesawat.

CVR merekam percakapan dan suara di dalam kokpit melalui empat kanal, mulai dari komunikasi dengan Air Traffic Control (ATC) hingga suara di dalam ruang kokpit. Sementara FDR menyimpan sekitar 88 parameter penerbangan, termasuk kecepatan, ketinggian, dan kondisi teknis pesawat sebelum kecelakaan.

Meski dikenal dengan sebutan black box, perangkat ini justru berwarna oranye terang, dirancang agar mudah ditemukan dalam kondisi darurat. 

Lokasinya di ekor pesawat dipilih karena bagian tersebut dinilai paling aman saat terjadi kecelakaan udara.

Dengan analisis data dari black box, KNKT diharapkan dapat segera merilis laporan investigasi serta rekomendasi keselamatan penerbangan guna mencegah tragedi serupa terulang di masa mendatang.

Pesawat ATR 42-500 tersebut diketahui membawa tujuh awak dan tiga penumpang. Hingga kini, dua korban meninggal dunia telah diidentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) dan diserahkan kepada pihak keluarga, yakni pramugari Florencia Lolita Wibisono dan Staf Kementerian Kelautan dan Perikanan, Deden Maulana.

Laporan: Rifki