Makna Kue Keranjang Khas Imlek: Lambang Rezeki dan Keharmonisan

Kue keranjang atau nian gao - (foto by Rifki)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di tengah semarak lampion merah, angpao, serta dekorasi khas Tahun Baru Imlek, kue keranjang atau nian gao selalu menjadi suguhan yang tak terpisahkan. Bentuknya memang sederhana dengan rasa manis dan tekstur kenyal, tetapi di balik itu tersimpan filosofi mendalam yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Secara bahasa, nian gao berarti “kue tahun”. Pengucapannya dalam bahasa Mandarin juga terdengar seperti frasa yang bermakna “tahun yang lebih tinggi” atau peningkatan dari tahun sebelumnya. Makna inilah yang kemudian dimaknai sebagai doa agar kehidupan di tahun baru semakin baik dalam hal rezeki, karier, kesehatan, maupun keharmonisan keluarga.

Rasa manis pada kue keranjang melambangkan harapan agar perjalanan hidup sepanjang tahun dipenuhi kebahagiaan. Sementara teksturnya yang lengket dimaknai sebagai simbol eratnya hubungan antaranggota keluarga. Tak heran, kue ini hampir selalu hadir dalam ritual sembahyang malam pergantian tahun maupun pada hari pertama Imlek.

“Memilih membeli dodor kerjang karena sudah tradisi setiap tahun, belinya lima pieces. Dipakai buat sembahyang, sesudah sembahyang dimakan. Maknanya maksudnya kue keranjang itu identik dengan manis, jadi maksudnya semua itu berjalan dengan baik dan manis, begitu,” ujar Vince, pembeli kue keranjang saat dijumpai di Pasar Bacan, Makassar, Rabu (11/2).

Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, kue keranjang biasanya disusun bertingkat ketika sembahyang. Susunan tersebut melambangkan rezeki dan pencapaian yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Setelah ritual selesai, kue kemudian disantap atau dibagikan kepada keluarga, menjadi simbol kebersamaan yang hangat.

Proses pembuatannya pun sarat makna. Kue keranjang dikukus selama 9 hingga 10 jam hingga warnanya berubah menjadi cokelat pekat. Waktu yang panjang ini dimaknai sebagai simbol kesabaran, ketekunan, dan kerja keras untuk meraih hasil yang manis.

Menariknya, kue keranjang umumnya hanya diproduksi menjelang Imlek. Sifatnya yang musiman membuatnya terasa lebih istimewa dan sakral. Ia bukan sekadar kudapan tradisional, melainkan bagian dari identitas budaya yang melekat dalam setiap perayaan Tahun Baru Imlek.

Kue keranjang tetap bertahan sebagai ikon tradisi di tengah gempuran berbagai jenis kue modern dan kekinian. Setiap potong nian gao yang disajikan bukan hanya menghadirkan rasa manis di lidah, tetapi juga membawa doa agar tahun yang baru dipenuhi kemajuan, keberuntungan, dan kehidupan yang semakin baik.

Laporan: Rifki