Pattimang ke Tana Suci Berkat Sisa Rumpat Laut

CELEBESMEDIA.ID, Makassar -  Di sela keriuhan Asrama Haji Sudiang, Rabu (22/4), seorang perempuan lansia tampak merapikan jilbabnya dengan jemari yang tak lagi muda.

Namanya Pattimang. Di usianya yang menginjak 85 tahun, gurat lelah di wajahnya seolah memudar, berganti binar bahagia yang sulit disembunyikan.

“Malomo mua sedding (perasaan senang dan dimudahkan),” ucapnya lirih dalam bahasa Bugis yang kental.

Pattimang adalah potret nyata bahwa niat tulus mampu menaklukkan kemustahilan. Kamis (23/4) subuh, ia resmi bertolak ke Madinah bersama 378 jemaah calon haji (JCH) asal Kabupaten Bone yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 3.

Namun, perjalanan menuju tangga pesawat ini bukanlah hasil dari kekayaan yang instan, melainkan buah dari kesabaran selama 15 tahun.

Jauh sebelum ia mengenakan seragam batik haji, keseharian Pattimang dihabiskan di atas perahu kayu tanpa mesin.

Dari rumahnya di Desa Unra, Kecamatan Awangpone, ia setia menyusuri sungai selama dua jam menuju laut lepas. Senjatanya hanya sepasang dayung dan tenaga yang tersisa.

Pekerjaannya pun tergolong berat bagi perempuan seusianya: memungut sisa-sisa rumput laut yang hanyut terbawa arus.

“Dulu saya kerja sendiri, saya dayung perahu tanpa mesin. Facokko ku tasie (saya ambil di laut). Kalau air pasang, saya ambil pakai tangan saja,” kenangnya.

Hasil jerih payahnya saat itu dihargai sangat murah, hanya berkisar Rp500 hingga Rp1.000 per kilogram. Namun, bagi Pattimang, setiap rupiah adalah batu bata untuk membangun mimpinya ke Baitullah. Sedikit demi sedikit), ia mengumpulkan recehan tersebut hingga mampu mendaftar haji pada tahun 2011 silam.

Keberangkatan Pattimang kali ini diwarnai rasa haru. Sejak suaminya wafat sepuluh tahun lalu, ia hanya tinggal berdua dengan saudara laki-lakinya.

Kini, di saat fisiknya bersiap menempuh perjalanan ribuan kilometer, pikirannya tetap tertinggal pada sang adik yang sedang terbaring sakit.

Bagi Pattimang, Tanah Suci bukan sekadar tempat bersujud, tapi juga tempat ia akan melangitkan doa paling khusyuk untuk orang tersayang.

“Saya minta doa untuk adik saya tallinge (diberikan kesehatan). Itu yang mau saya doakan di sana nanti,” tutupnya dengan suara bergetar.

Kisah Pattimang menjadi pengingat bagi siapa saja di musim haji 2026 ini: bahwa panggilan ke Tanah Suci sering kali menjemput mereka yang paling tabah, bukan sekadar mereka yang paling mapan.