Hasil Riset Peneliti Korsel Ancam Bikin Tamat Cerita Mobil Bensin
Ilustrasi - (foto by Pexels)
CELEBESMEDIA.ID, Makasaar - Pertarungan inovasi di industri otomotif global tak pernah jeda. Bahkan kian sengit untuk menciptakan produk yang lebih nyaman, semakin efisien, ramah lingkungan yang berkelanjutan.
Peneliti Korea Selatan (Korsel) dilaporkan telah berhasil mengembangkan teknologi baterai berbasis silikon yang mampu membawa mobil listrik melaju hingga sekitar 1.000 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Wow...! Ini mengirimkan sinyal pertanda ancaman tamatnya cerita kendaraan berbahan bakar bensin.
Jika temuan ini masuk tahap produksi massal, peta industri otomotif global berpotensi berubah drastis dan dramatis.
Selama ini, jarak tempuh menjadi hambatan dalam peralihan dari kendaraan berbahan bakar minyak ke mobil listrik.
Banyak konsumen masih ragu beralih karena kapasitas baterai dianggap belum cukup untuk kebutuhan perjalanan jarak jauh.
Dengan inovasi baru Korea ini berupaya menjawab keraguan tersebut secara langsung. Riset tersebut dikembangkan oleh tim ilmuwan dari Pohang University of Science and Technology di Korsel, sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia.
Mereka memusatkan penelitian pada silikon, material yang dikenal melimpah di alam dan memiliki potensi besar sebagai bahan baterai generasi berikutnya.
Silikon bukan tanpa masalah. Saat proses pengisian daya, volumenya bisa mengembang hingga tiga kali lipat, lalu menyusut kembali saat digunakan.
Perubahan ekstrem ini membuat struktur baterai mudah rusak. Selama ini, solusi yang banyak ditempuh adalah menggunakan silikon dalam bentuk partikel nano berukuran sangat kecil.
Masalahnya, produksi partikel nano membutuhkan biaya besar dan teknologi yang rumit, sehingga sulit diterapkan secara luas. Tim peneliti dari Pohang justru mengambil jalan berbeda.
Alih-alih partikel nano, mereka menggunakan silikon berukuran mikro yang sekitar 1.000 kali lebih besar. Ukuran ini jauh lebih mudah diproduksi dan lebih ekonomis, sekaligus memungkinkan kepadatan energi yang lebih tinggi.
Untuk mengatasi persoalan kembang-kempis silikon, para peneliti mengkombinasikannya dengan gel polimer elektrolit yang fleksibel.
Gel ini dirancang agar ikut berubah bentuk mengikuti pergerakan silikon. Agar ikatannya tetap kuat, struktur tersebut kemudian distabilkan secara kimia menggunakan radiasi elektron.
Hasilnya, baterai yang dihasilkan tetap stabil meski silikon terus mengalami kembang kempis. Bahkan, performanya diklaim setara dengan baterai lithium-ion konvensional, namun dengan kepadatan energi sekitar 40 persen lebih besar.
"Kami menggunakan anoda mikro-silikon dan tetap mendapatkan baterai yang stabil. Riset ini membawa kami lebih dekat ke sistem baterai lithium-ion dengan densitas energi tinggi," ujar Park Soojin, peneliti dari Pohang University seperti dikutip CNBC Indonesia, di Jakarta, Minggu (18/1/206).
"Desain baterai ini relatif mudah diaplikasikan ke sistem yang sudah ada," ujarnya menambahkan.
