Societeit de Harmonie: Dulu Tempat Nongkrong Belanda, Kini Rumah Seni

Gedung Societeit de Harmonie (kini Gedung Kesenian Sulawesi Selatan) di kota Makassar antara tahun 1890 hingga 1900 yang masih dalam bentuk lama - (foto by Tropenmuseum, part of the National Museum of

CELEBESMEDIA.ID,.Makassar - Di tengah padatnya Jalan Riburane, kawasan yang dikenal sebagai pusat ekonomi Makassar, sebuah bangunan tua berdiri anggun menghadap jalan raya. Empat pilar bergaya neoklasik Eropa menyambut siapa pun yang datang. Di sayap timurnya menjulang menara beratap limas tiga tingkat. Inilah Gedung Kesenian Sulawesi Selatan, yang dulu bernama Societeit de Harmonie.

Gedung itu akan ramai saat ada acara kebudayaan. Namun pada 1910-an hingga 1930-an, namanya identik dengan pesta, dansa, dan musik jazz.

Berdasarkan buku Gedung Bersejarah di Kota Makassar, Societeit de Harmonie dibangun pada 1896 sebagai tempat bersosialisasi eksklusif bagi orang-orang Belanda. Bangunan seluas 2.339 meter persegi ini juga dipakai Gemeente (pemerintah kota) Makassar untuk menjamu tamu penting dan menggelar acara resmi.

Suasananya berubah setiap akhir pekan. Mulai pukul delapan malam, pesta berlangsung hingga dini hari, kadang diselingi sandiwara atau pertunjukan musik. Ketika gedung diperluas pada 1910-an, jazz yang menyebar dari Amerika Serikat ikut mengisi lantai dansanya. Trombon, saksofon, piano, bass, biola, dan ukulele menjadi andalan.

Pada masa yang sama, Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu "Indonesia Raya", sedang merantau dan belajar di Makassar. Buku tersebut tidak menyebutnya secara eksplisit. Meski begitu, ada kemungkinan Supratman dan grup jazz-nya, Black White, pernah tampil di gedung ini.

Saat Jepang berkuasa, gedung ini tetap menjadi pusat pertunjukan sandiwara, tetapi dengan muatan propaganda 3A. Situasi itu berlangsung hingga Jepang menyerah kepada Sekutu pada 1945.

Dalam buku Makassar Doeloe, Makassar Kini, Makassar Nanti, gedung berbentuk huruf L ini tetap menjadi pusat kesenian setelah Indonesia merdeka. Hanya saja, kelompok teater belum leluasa memakainya karena gedung lebih sering menjadi tempat pertemuan orang Eropa, Tionghoa, dan bangsawan lokal. 

Fungsi kesenian baru dipulihkan ketika Andi Pangerang Petta Rani menjabat Gubernur Sulawesi (1956-1960), dan teater yang digerakkan seniman lokal kembali hidup.

Setelah itu gedung sempat ditempati sejumlah instansi, antara lain:

- DPRD Tingkat I Sulawesi Selatan (1960-1978)

- KNPI dan Dinas Pendapatan Daerah (1978-1980)

- Dewan Kesenian Makassar (1980-1990)

- Kantor Pembantu Gubernur Wilayah III dan BKPMD (1990-2000)

Sejak 2000, Dewan Kesenian Makassar kembali menempatinya hingga sekarang.

Warga Makassar akrab menyebutnya Gukes atau GedKes. Pada 1978, drama sejarah "I Tolok Daeng Gassing" karya Rachman Arge dipentaskan di sini sebelum tampil di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pada 1982, gedung ini menjadi tuan rumah Festival Teater IV yang diselenggarakan Dewan Kesenian Makassar.

Ketika gelombang demonstrasi mahasiswa memuncak pada Mei 1998, sejumlah seniman menggelar aksi protes artistik di sini. Sejak 2000-an, gedung yang berhadapan dengan RRI Makassar ini menjadi lokasi favorit organisasi mahasiswa untuk acara inaugurasi. Band indie Melismatis menggelar konser pamungkasnya di sini pada 2017, dan pada 2019 Makassar Biennale mengubahnya menjadi galeri pameran seni.

Bangunan yang ditetapkan sebagai Cagar Budaya pada 22 Juni 2010 ini juga hidup di hari biasa. Tiap malam, kios-kios sederhana di trotoar depannya menjual kopi panas, aneka jus, dan nasi kuning. Di sana, warga dan pencinta bangunan tua bisa menikmati salah satu peninggalan kolonial yang masih dipakai warganya.