Evakuasi Udara Terkendala, Basarnas Minta Operasi Modifikasi Cuaca

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii - (foto by Rifki)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mengajukan permintaan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Langkah ini dilakukan untuk mempercepat proses evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan.

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, mengatakan kondisi cuaca menjadi faktor utama yang menghambat pelaksanaan evakuasi, khususnya melalui jalur udara yang sejatinya paling efektif menjangkau lokasi kejadian.

“Karena itu kita sudah berkomunikasi baik dengan BMKG maupun BNPB untuk bisa dibantu dengan operasi modifikasi cuaca dan mudah-mudahan kesempatan pertama unsur udara yang bisa membantu melaksanakan operasi modifikasi cuaca ini bisa segera dilaksanakan,” ujar Syafii kepada awak media di Kantor Basarnas Kelas A Bandar Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Senin (19/1).

Syafii menjelaskan, sejak hari pertama hingga hari kedua operasi pencarian dan pertolongan, kondisi atmosfer di sekitar Bulusaraung belum memungkinkan bagi pergerakan helikopter.

“Pada saat hari pertama, kemudian hari kedua, kita melihat kondisi cuaca hari ini di sini memang tidak hujan, tapi kalau kita lihat bahwa base cloud memang sangat rendah dan di ketinggian lebih tebal lagi,” jelasnya.

Menurutnha, sejak awal Basarnas telah menetapkan evakuasi udara sebagai prioritas utama karena efisiensi waktu tempuh menuju lokasi jatuhnya pesawat.

“Awalnya kita merencanakan bahwa prioritas utama yang kita utamakan adalah melalui udara, karena memang perjalanan menuju lokasi untuk ditempuh dengan pesawat helikopter kurang dari 10 menit, namun karena kondisi cuaca misi tersebut belum bisa kita laksanakan,” katanya.

Basarnas berharap dengan dukungan operasi modifikasi cuaca, kondisi cuaca di wilayah Pegunungan Bulusaraung dapat membaik sehingga helikopter SAR dapat segera dikerahkan.

“Dengan mudah-mudahan dengan kondisi cuaca yang lebih baik kita prioritas akan melaksanakan evakuasi dengan udara,” tegas Syafii.

Sambil menunggu perbaikan cuaca, Syafii memastikan bahwa tim SAR darat tetap bergerak mendekati titik lokasi korban meski harus menghadapi medan terjal dan berisiko tinggi.

Operasi SAR kecelakaan pesawat ATR 42-500 hingga kini masih terus berlangsung dengan melibatkan lebih dari 1.200 personel gabungan dari berbagai unsur. Fokus utama Basarnas tetap pada pencarian dan evakuasi korban, dengan memanfaatkan waktu krusial atau golden time serta dukungan penuh dari instansi terkait.

Laporan: Rifki