Korban Meninggal Gempa NTT Capai 100 Jiwa

Petugas medis merawat warga yang terluka akibat gempa bumi di RSUD TC Hillers Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/08/2026) - (foto by ANTARA)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), mencapai 100 jiwa.

Sebagian besar merupakan korban yang sebelumnya mengalami luka berat dan menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.

Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, jumlah korban meninggal pada awal bencana tercatat 48 jiwa. Angka tersebut kemudian bertambah setelah sejumlah korban luka berat tidak berhasil diselamatkan.

"Untuk jumlah meninggal, ini perlu kami tegaskan, bahwa yang meninggal seratus ini adalah korban gempa yang semula luka berat, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan," kata Suharyanto dalam konferensi pers daring dari Jakarta, Senin (24/8).

Selain korban meninggal, BNPB mencatat 1.603 orang mengalami luka-luka. Sementara itu, sebanyak 180.327 jiwa masih berada di lokasi pengungsian.

Suharyanto mengatakan kondisi darurat turut diperburuk oleh beredarnya informasi palsu mengenai potensi tsunami susulan.

Isu tersebut membuat sebagian warga panik dan memilih mendirikan pengungsian mandiri di lokasi yang jauh dari jangkauan petugas, termasuk kawasan perbukitan.

BNPB memastikan informasi mengenai tsunami susulan tersebut tidak benar. Suharyanto meminta masyarakat mengikuti perkembangan aktivitas gempa melalui informasi resmi dari instansi berwenang, terutama BMKG.

"Setiap pagi instansi yang berwenang, sekali lagi Kepala BMKG selalu meng-update, menginformasikan perkembangan gempa, dan dalam delapan hari ini tidak pernah ada satupun gempa susulan yang melebihi gempa utama," ujarnya.

Berdasarkan data BMKG yang disampaikan BNPB, tercatat 6.409 kali gempa hingga pukul 05.00 WIB pada hari kedelapan setelah gempa utama. Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil bermagnitudo 1,1.

Dari total gempa tersebut, sebanyak 33 kali memiliki magnitudo 5 atau lebih dan 139 gempa dirasakan oleh masyarakat.

BNPB memperkirakan aktivitas gempa susulan masih dapat berlangsung selama tiga hingga empat pekan ke depan sebelum kondisi lempeng kembali stabil. Namun, intensitas gempa susulan diproyeksikan terus menurun.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah daerah tetap menyalurkan bantuan logistik kepada warga yang memilih bertahan di lokasi pengungsian mandiri.

Distribusi dilakukan menggunakan kendaraan berukuran kecil hingga dengan berjalan kaki untuk menjangkau warga di kawasan perbukitan.

Suharyanto mengakui kebutuhan dasar para pengungsi belum sepenuhnya terpenuhi. Pemerintah, kata dia, akan terus berupaya menjangkau warga yang berada di lokasi terpencil maupun mereka yang belum bersedia berpindah ke tempat pengungsian terpusat.

"Apakah semuanya sudah ter-cover, apakah semuanya sudah dapat, apakah semuanya sudah cukup, kami jawab belum cukup. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, kami akan berusaha sekuat tenaga agar para pengungsi mandiri tetap dilayani kebutuhan logistik dan kebutuhan dasar manusia lainnya," katanya.

Sumber: ANTARA