Mirren Eus: Apartemen Kolonial yang Masih Dihuni
Kondisi Mirren Eus saat ini - (foto by Simcabud Makassar )
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di tengah hiruk-pikuk Kota Makassar, berdiri sebuah bangunan tua yang nyaris luput dari perhatian. Namanya Apartemen Sarang Semut, dikenal juga sebagai Mirren Eus.
Bangunan yang dibangun sekitar awal abad ke-20 ini kini berstatus cagar budaya dan menyimpan jejak keanggunan arsitektur era kolonial Belanda di kawasan Ujung Pandang.
Sarang Semut punya riwayat penghuni yang unik. Menurut Wikipedia, apartemen ini mulanya menjadi tempat tinggal para gadis dan nona Belanda yang bersekolah di Osvia. Versi lain dari Sistem Informasi Cagar Budaya (Simcabud) Makassar mencatat bangunan ini dibangun oleh pengusaha Belanda sebagai hunian bagi para bujang yang bekerja sebagai pegawai pemerintah kolonial. Kedua catatan ini sama-sama menegaskan fungsinya sebagai rumah singgah kaum muda Belanda di Makassar.
Setelah masa pendudukan Jepang, fungsinya berubah menjadi hunian keluarga. Kepemilikannya pun berpindah, dari tangan pengusaha Belanda ke negara, dan kini dihuni oleh beberapa kepala keluarga.
Bentuk denahnya menyerupai huruf L, dengan dua lantai dan enam unit kamar. Setiap unit dilengkapi kamar mandi, dapur, gang, dan teras depan. Lantai dua dijangkau lewat tangga batu bata di sisi kanan bangunan. Gayanya modern untuk ukuran awal 1900-an, dengan konstruksi beton bertulang, atap limasan, dan genteng kodok.
Kompleks ini berada di Jl. Ince Nurdin, Kelurahan Baru, dengan alamat bernomor 9, 11, 13, 15, 17, dan 19. Menurut Wikipedia, lokasinya diapit empat ruas jalan: Amanagappa di selatan, Botolempangan di barat, Ince Nurdin di utara, dan Sudirman di timur.
Karena saat ini tiap unit dimiliki perorangan, maka kondisi bagunan Mirren Eus berbeda-beda. Ada bagian bagunan yang masih bertahan, namun ada pula yang sudah tidak terawat.
