Keluarga Korban ATR 42-500 Jalani Pemeriksaan Ante Mortem
CELEBESMEDIA.ID,Makassar – Proses identifikasi korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, mulai melibatkan keluarga korban.
Polda Sulawesi Selatan menyiapkan Rumah Sakit Bhayangkara Makassar sebagai rumah sakit rujukan untuk pemeriksaan ante mortem, yang menjadi tahapan penting dalam identifikasi jenazah.
Kepala Polda Sulsel Inspektur Jenderal Djuhandani menyampaikan, Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulsel diperkuat oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri guna mempercepat pengungkapan identitas korban.
"Di mana, Rumah Sakit Bhayangkara yang didukung tim Disaster Victim Identification atau DVI Mabes Polri hari ini sudah dikirim personel-personel yang membidangi hal tersebut," ujar Djuhandani saat konferensi pers di Bandara Sultan Hasanuddin, Minggu (18/1).
Djuhandani mengungkapkan, hingga saat ini baru satu anggota keluarga korban yang hadir untuk menjalani pemeriksaan data ante mortem, yakni adik kandung dari co-pilot pesawat naas tersebut.
"Kemudian, sampai saat ini, keluarga korban, yang hadir untuk diperiksa, atau dicek data ante mortemnya, ada satu orang, yaitu adik kandung dari co-pilot," tambahnya.
Pemeriksaan ante mortem sendiri meliputi pengumpulan data medis korban semasa hidup, seperti ciri fisik, rekam gigi, hingga data pendukung lain yang nantinya akan dicocokkan dengan hasil post-mortem. Langkah ini menjadi krusial dalam proses identifikasi, terutama pada kecelakaan dengan kondisi medan sulit.
Untuk mengantisipasi keterbatasan kehadiran keluarga di Makassar, Polda Sulsel telah berkoordinasi dengan Biddokkes di daerah asal para korban.
"Mana kalau keluarga korban tidak bisa hadir di Makassar, maka kami akan berdayakan seluruh Biddokkes dengan berkordinasi dengan Kapusdokkes, untuk jemput bola," jelas Djuhandani.
Sementara itu, Kepala Basarnas Sulsel Muhammad Arif Anwar menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ditemukan korban jiwa di lokasi pencarian. Tim SAR gabungan masih fokus melakukan penyisiran di area jatuhnya pesawat.
"Saat ini tim baru menemukan jendela pesawat, ekor pesawat, dan badan pesawat. Juga ditemukan banyak serpihan kecil di berbagai tempat," ungkap Arif.
Proses pencarian dilakukan dengan mengombinasikan jalur darat dan udara. Unsur udara melibatkan Helikopter Caracal dan pesawat Boeing milik TNI Angkatan Udara, sementara jalur darat dikerahkan sekitar 1.200 personel dari berbagai instansi.
Basarnas juga membagi personel ke dalam empat Search and Rescue Unit (SRU) yang menyebar di sejumlah titik strategis untuk memastikan tidak ada korban yang terlewat.
"Kami dari Basarnas sendiri membagi empat SRU dan membagi empat titik pencarian, melalui penyapuan lewat darat, sehingga tidak ada korban yang terlewatkan," tutupnya.
Laporan: Rifki
