Solar Langka Hantam Logistik Sulsel, ALFI: Dampaknya Sudah Nyata

Ketua ALFI Sulselbar, Yodi Nalendra - (int)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Kelangkaan solar subsidi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir mulai berdampak serius terhadap operasional perusahaan logistik dan angkutan barang di Sulawesi Selatan.

Antrean panjang di sejumlah SPBU dinilai telah mengurangi ritase truk hingga memicu keterlambatan distribusi barang.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Sulawesi Selatan dan Barat, Yodi Nalendra, mengaku sangat prihatin sekaligus kecewa dengan kondisi tersebut.

Menurutnya, persoalan solar tidak lagi sekadar menyangkut kesulitan pengisian bahan bakar, tetapi telah menjadi hambatan nyata bagi aktivitas logistik.

"Sangat prihatin dan sangat kecewa," kata Yodi.

Ia menjelaskan, keterbatasan solar membuat layanan angkutan logistik tidak berjalan tepat waktu. Pelaku usaha juga semakin sering menerima keluhan dari pemilik barang karena pengiriman mengalami keterlambatan.

Masalah lainnya, kata Yodi, waktu dan tenaga pengemudi banyak tersita hanya untuk mencari SPBU yang masih memiliki stok solar subsidi. Setelah menemukan SPBU yang tersedia, kendaraan masih harus menghadapi antrean panjang.

"Kalau biasanya untuk muatan dalam kota kita bisa dapat minimal dua ritase, dengan kondisi solar subsidi seperti sekarang ini hanya bisa satu rit. Itu pun lewat perjuangan yang luar biasa menyita waktu dan tenaga," ujarnya.

Penurunan ritase tersebut turut berdampak terhadap pendapatan perusahaan logistik maupun pengemudi. Di sisi lain, keterlambatan kendaraan dapat menimbulkan biaya tambahan berupa storage di pelabuhan dan demurrage kontainer kepada perusahaan pelayaran.

Dampaknya semakin terasa untuk pengiriman antarkabupaten maupun antarprovinsi yang membutuhkan jarak tempuh jauh. Yodi mengatakan pelaku logistik harus memastikan ketersediaan solar sejak kendaraan berangkat dari Makassar agar dapat menyelesaikan perjalanan pergi-pulang.

Menurut dia, perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan asumsi bahwa solar akan tersedia di SPBU sepanjang jalur perjalanan. Dengan kondisi stok yang tidak menentu, pengusaha terpaksa mencari dan mengamankan ketersediaan solar terlebih dahulu.

"Kami harus rela keliling mencari SPBU yang tersedia solar subsidinya dan antre sampai berhari-hari," katanya.

Persoalan itu diperberat dengan adanya pembatasan kuota solar subsidi harian yang diberlakukan melalui sistem barcode. Yodi menilai kondisi tersebut semakin menyulitkan kendaraan angkutan barang yang membutuhkan bahan bakar untuk menempuh perjalanan jauh.

ALFI Sulselbar, lanjut Yodi, telah berulang kali menyampaikan persoalan tersebut kepada pihak terkait. Audiensi dan dialog telah dilakukan dengan Pertamina Regional Sulsel, Hiswana Migas, Dinas Perhubungan hingga DPRD Sulsel.

Namun, ia menilai upaya tersebut belum menghasilkan perubahan berarti di lapangan. "Karena kenyataan di lapangan tidak ada perubahan. SPBU kosong, tidak ada stok. Yang tersedia pun harus mengular antreannya," ujarnya.

Antrean kendaraan yang memanjang di sejumlah SPBU bahkan dinilai mulai mengganggu ketertiban umum karena menyebabkan kemacetan di sekitar lokasi pengisian bahan bakar.

Yodi menegaskan, gangguan terhadap distribusi barang sudah terjadi, bukan lagi sebatas ancaman. Jika kondisi tersebut terus berlangsung tanpa solusi, gangguan distribusi logistik di Sulsel dan jalur antarprovinsi di kawasan Sulawesi dikhawatirkan semakin parah.

Dari sisi biaya, pelaku usaha memang belum serta-merta menaikkan tarif angkutan. Namun, apabila kelangkaan solar subsidi berlangsung berkepanjangan, perusahaan logistik terpaksa mempertimbangkan penggunaan solar nonsubsidi.

Berdasarkan simulasi internal yang pernah dilakukan ALFI, peralihan dari solar subsidi ke solar nonsubsidi dapat meningkatkan biaya hingga minimal 120 persen dari tarif trucking yang berlaku saat ini.

Kenaikan biaya tersebut pada akhirnya berpotensi diteruskan ke konsumen melalui tarif angkutan dan biaya distribusi. Efek berantainya pun dikhawatirkan merembet pada harga barang.

"Kalau kondisi seperti ini berlarut-larut, kami akan mengambil langkah untuk menggunakan solar nonsubsidi yang pasti akan menaikkan biaya logistik. Dampak akhirnya adalah inflasi karena harga barang-barang pasti juga akan menyesuaikan," tutur Yodi.

Karena itu, ALFI Sulsel meminta pemerintah dan pihak terkait segera mempertebal stok solar subsidi di SPBU, terutama di titik-titik yang menjadi jalur utama kendaraan logistik.

"Perbanyak dan pertebal stok solar subsidi di setiap SPBU di mana pun. Sehingga tidak ada kelangkaan dan tidak ada antrean solar subsidi," tegasnya.

Yodi juga meminta Pertamina dan pihak terkait terbuka mengenai akar persoalan apabila kelangkaan solar subsidi memang disebabkan masalah yang bersifat kronis. Menurutnya, keterbukaan informasi diperlukan agar pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat dapat bersama-sama mencari solusi.

"Kalau memang ada masalah kronis dan terbukti karena ini sudah berlarut-larut, pihak terkait harus berani menyampaikan akar masalahnya. Sehingga masyarakat tahu dan pemerintah secara bersama-sama dapat melakukan langkah-langkah solutif," pungkasnya.