Apang Panas: Aroma Tradisional di Tengah Gempuran Kue Kekinian
Penjual apang panas Tinggi Mae - (foto by Rifki)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Uap panas mengepul dari kukusan logam di sudut Jalan Rappokalling. Aroma gula merah dan kelapa parut menggugah selera, mengundang siapa pun yang melintas untuk menoleh. Di balik kepulan uapnya, para pekerja sibuk menyiapkan Apang Panas, kue tradisional khas Bugis. yang hingga kini masih bertahan.
Apang panas memang sederhana, berbahan dasar tepung beras dan gula merah, namun cita rasanya menghadirkan nostalgia. Teksturnya lembut, hangat di tangan, manisnya pas, dan aroma fermentasi khasnya tak tergantikan oleh tren-tren baru.
Di tengah maraknya tren kue kekinian seperti croffle, Korean garlic bread, dan dessert box yang viral di media sosial, sebuah kue tradisional tetap menguar harum dari sudut-sudut dapur sederhana di sudut Kota Makassar.
Salah satunya yang terletak di Jalan Gunung Tinggi Mae. Apang panas Tinggi Mae sudah berdiri lima tahun terakhir dengan tiga cabang di Makassar, masing-masing di RS Pelamonia, Jalan Abu Bakar Lambogo, dan Rappokalling.
Usaha ini merupakan warisan keluarga Bugis-Sengkang yang kini diteruskan oleh generasi kedua. Tak tanggung, omzet yang dihasilkan bisa mencapai Rp18 juta per bulan.
“Buka dari pukul tujuh pagi sampai lima sore. Harganya lima ribu empat biji. Sehari bisa laku sampai enam ratus ribu, kalau ramai bisa delapan ratus ribu sampai sejuta,” tutur Rina, pegawai di cabang Rappokalling, Minggu (19/10).
Menurut Rina, pelanggan Apang Panas Tinggi Mae kebanyakan dari kalangan masyarakat biasa, termasuk guru dan pekerja sekitar. Meski sederhana, cita rasa tradisional kue ini tetap memikat karena menjaga keaslian bahan dan prosesnya.
“Kalau orang bilang, produk kami pakai gula merah asli. Tidak ada campuran kayak gula pasir, biasanya kan orang dicampur, kami tidak. Gula merahnya ambil dari Jalan Abu Bakar Lambogo,” jelas Rina sambil menunjukkan kukusan yang masih beruap.
Bahan dasar apang panas terdiri dari tepung, gula aren, dan taburan kelapa parut. Proses pembuatannya dimulai dari menyiapkan adonan, memoles cetakan hingga rata, lalu mengukusnya selama sekitar enam menit setengah.
“Tahap pemolesan jadi bagian tersulit, karena adonan harus menyebar sempurna agar kue mengembang dengan baik,” ucap Rina.
Lokasi cabang Rappokalling dianggap cukup strategis. Saat malam, lalu lintas yang ramai membuat banyak pengendara mampir membeli. Selain disajikan untuk camilan, Apang Bugis juga sering dihidangkan menggunakan bosara yakni wadah khas Bugis yang dipakai dalam acara-acara adat atau perayaan keluarga.
Meski penjualan stabil, Rina berharap generasi muda mulai melirik kue tradisional ini.
“Harapannya anak muda juga coba Apang Bugis ini karena rata-rata pembeli masih bapak-bapak dan ibu-ibu. Di sini kan dari mulut ke mulut, awalnya coba-coba jadi suka, malah jadi langganan,” ujarnya.
Dengan aroma manis dan rasa yang lembut, Apang Panas bukan sekadar jajanan pasar, Ia adalah pengingat akan hangatnya tradisi Bugis yang terus hidup di tengah hiruk-pikuk Makassar.
Di tengah kepungan kue-kue kekinian, Apang panas tetap eksis sebab beberapa pedagang apang panas berinovasi melalui cara pemasarannya. Beberapa diantara pedagang menjajakan apang panas mereka melalui media sosial, termasuk apang panas Tinggi Mae.
Laporan: Rifki
