Balai Kota Makassar: Jejak Belanda di Kerkplein

Pintu masuk Balai Kota Makassar masih mempertahankan desain awal bangunan - (foto by Simcabud Makassar)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Jika melintas di Jalan Ahmad Yani, Makassar, ada satu bangunan putih berlantai dua yang sulit terlewat. Gedung itu kini dikenal sebagai Balai Kota Makassar. Namun sebelum menjadi pusat pemerintahan kota, ia punya peran yang jauh lebih besar.

Berdasarkan catatan Sistem Informasi Cagar Budaya (Simcabud) Makassar, Pemerintah kolonial Belanda membangun gedung ini sekitar 1939 sebagai kantor Gubernur Groote Oost (Timur Besar). Sayangnya, masa kejayaannya singkat. Jepang menduduki wilayah ini pada 1942, dan Belanda tak lama menikmati gedung barunya.

Setelah kemerdekaan, gedung ini tetap menjadi pusat kekuasaan. Gubernur pertama Indonesia yang berkantor di sini adalah Dr. G.S.S.J. Ratulangi (1945–1946). 

Pada era Negara Indonesia Timur dan sesudahnya, jabatan gubernur silih berganti, antara lain Lanto Daeng Pasewang, Andi Pangerang Petta Rani, Andi Rifai, Achmad Lamo, Andi Odang, hingga Achmad Amiruddin. Sejak 1993, di masa Wali Kota Suwahyo, gedung ini resmi menjadi Kantor Wali Kota Makassar.

Balai Kota berdiri di kawasan Kerkplein, sisi timur Benteng Fort Rotterdam, di atas lahan terbuka di depan Gereja Immanuel. Kompleksnya membentang dari Jalan A. Yani hingga Jalan Sultan Hasanuddin dan dibatasi Jalan Slamet Riyadi di barat. Gedung tidak langsung menyentuh jalan. Halaman luas di sisi utara berfungsi sebagai lapangan upacara.

Denahnya berbentuk persegi, tersusun dari empat unit bangunan memanjang yang mengelilingi halaman dalam. Dindingnya dari bata berperekat semen dan pasir, dicat putih. Selasar di sisi utara dan sayap timur-barat saling tersambung membentuk huruf U.

Gayanya modern dengan sentuhan tropis. Atap limasan, jendela lebar, dan ventilasi yang hampir memenuhi dinding menjaga udara dan cahaya tetap mengalir. Lebar tiap unit tak sampai 14 meter, sehingga sirkulasi udara bekerja optimal. Selasar luar juga berfungsi sebagai peredam panas dan silau sebelum sinar matahari masuk ke ruangan.

Ada pula yang berbeda dari bangunan Belanda lama. Kamar mandi, toilet, dan gudang tidak dipisah dalam unit tersendiri, tetapi menyatu di tiap sisi gedung. Dekorasinya pun minim. Tiang, jendela, garis tritisan, dan ventilasi sudah cukup menjadi hiasan. Pendekatan "fungsi lebih dulu" ini sejalan dengan arsitektur modern Barat yang sedang berkembang pesat pada 1930-an.

Setelah lebih dari delapan dekade, struktur asli gedung masih bertahan. Meski begitu, sebelum 1990-an halaman dalamnya mulai diisi bangunan tambahan, sehingga konsep English Garden atau bangunan dengan taman di tengah pun hilang. 

Pada 2011, Balaikota Tower berdiri di bekas taman itu. Interior juga mengalami banyak pembaruan dekoratif tanpa mengubah struktur aslinya.

Balai Kota Makassar merekam perjalanan pemerintahan kota, bahkan Sulawesi secara umum. Karena itu, bangunan ini layak ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010.