Pesan 'Stop Bakar Hutan' Curi Perhatian di Forkot Makassar 2026

Pesan Stop Bakar Hutan Kalimatan pada baju salah seorang peserta Forkot Makassar 2026 - (foto by Rini)

CELEBESMEIDIA.ID, Makassar - Suasana berbeda mewarnai arena Kejuaraan Panahan Tradisional Pekan Olahraga Kota (Forkot) Makassar 2026. Di tengah ketatnya persaingan antar-atlet panahan, kehadiran seorang peserta berhasil menyedot perhatian publik berkat penampilan dan aksi uniknya.

Ia tampil mengenakan busana bercorak khas Kalimantan, lengkap dengan hiasan ikat kepala serta ikat pinggang tradisional Suku Dayak. Namun, bukan cuma pesona pakaian adat tersebut yang membuat pasang mata tertuju padanya, melainkan pesan mendalam yang tertera pada baju yang ia kenakan.

Tanpa perlu membentangkan spanduk raksasa, kalimat tegas bertuliskan "Stop Bakar Hutan Kalimantan" tercetak di pakaiannya. Baju itu ia kenakan di badan dan dibawanya berlaga di tengah lapangan lomba. 

Ketika mayoritas peserta fokus mengejar medali kemenangan, remaja bernama Aly Hassan itu datang membawa misi yang lebih besar dari sekadar trofi: menegaskan bahwa hutan bukan untuk dibakar dan kepedulian terhadap lingkungan tak perlu menunggu status sebagai juara.

"Saya sampaikan ke nenek untuk dibuatkan baju Kalimatan yang ada tulisan stop bakar hutan karena sekarang sedang ramai pembakaran lahan dan hutan," terang Aly saat ditanya alasan mengenakan baju khas Kalimantan itu, Senin (19/10).

Aksi kampanye kreatif ini berawal dari rasa prihatin Aly terhadap kondisi keluarganya di luar pulau. Ia mengungkapkan kekhawatirannya saat mendengar kabar tentang paman dan bibinya di Kalimantan yang harus berjuang menghadapi kabut asap tebal setiap hari.

"Alhamdulillah katanya sekarang sudah membaik kondisi di sana kata Tante saya. Tapi sepekan kemarin itu katanya susah kemana-mana, harus memakai masker dan kacamata. Tante saya sempat batuk dan sakit mata," lanjut pelajar kelas IX SMPIT Al Muqiit tersebut.

Isu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) ini sejatinya tak asing bagi warga setempat. Pasalnya, Kota Makassar bersama beberapa wilayah di Sulawesi Selatan (Sulsel) juga sempat merasakan kabut asap kiriman serta dampaknya akibat paparan asap Karhutla dari Kalimantan. 

Momen Forkot Makassar sebagai pesta olahraga antarkecamatan  menjadi panggung strategis bagi Aly untuk menggaungkan kepedulian lingkungan tersebut kepada khalayak luas.

Melalui pesan singkat di busananya, ia berharap bisa mengetuk hati masyarakat Indonesia dan mengingatkan sesama akan pentingnya saling peduli terhadap isu lingkungan.

"Karena saya pikir di Forkot akan banyak orang, makanya saya minta dibuatkan baju seperti ini. Jadi setiap orang yang datang pasti akan ingat ada kebakaran hutan di Kalimatan. Tulisannya juga saya pasang di bagian depan dan belakang baju biar mudah dibaca," terangnya.

Ajang Kejuaraan Panahan Tradisional ini merupakan bagian dari rangkaian Pekan Olahraga Kota (Forkot) Makassar 2026 dipusatkan di Masjid Agung 45 pada Minggu (18/10) diikuti  176 atlet yang mewakili 14 kecamatan di Kota Makassar. 

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kota Makassar bersama Pemkot Makassar dan Persatuan Panahan Tradisional Indonesia (PERPATRI) Makassar. Kompetisi dibuka oleh Ketua KORMI Kota Makassar.

"Harapan kami, insyaallah event ini bisa kembali terlaksana pada tahun depan. Semoga penyelenggaraan berikutnya semakin baik, pesertanya semakin banyak, dan panahan tradisional semakin berkembang serta diminati masyarakat Kota Makassar," terang Ketua Panitia Lomba Panahan Tradisional Forkot Makassar 2026, Andi Bahtilar, Minggu (18/10).

Gelaran Forkot ini menjadi ajang pembinaan sekaligus pencarian bibit atlet potensial di Kota Daeng. Perlombaan terbagi dalam dua kelompok, yakni kategori panahan jarak 10 meter untuk kelompok usia di bawah 13 tahun (U-13) serta kategori jarak 18 meter untuk kelompok usia di bawah 18 tahun (U-18).