JEJAK ULAMA (14), KH Muhammad As’ad (1907 – 1952)
KH Muhammad As’ad - (handover)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - KH Muhammad As’ad merupakan maha guru ulama-ulama di Sulawesi Selatan pada pertengahan abad ke-20. Dialah tokoh sentral dan menjadi induk jaringan intelektual madrasah, pesantren dan ulama ketika itu.
Dosen UIN Alauddin Makassar, Wahyuddin Halim, menjelaskan, hampir semua ulama besar di Sulawesi Selatan pada pertengahan abad ke-20, pernah berguru pada KH. Muhammad As’ad. Di antara ulama yang pernah menjadi muridnya antara lain KH Daud Ismail (Pendiri Pesantren Yasrib Soppeng), KH Abrurrahman Ambo Dalle (Pendiri Pesantren DDI Mangkoso Barru), KH Abduh Pabbajja (Pendiri Pesantren Al-Furqon Parepare), KH Muin Yusuf (Pendiri Pesantren Al-Urwatul Wutsqa Sidrap, dan masih banyak lagi yang lainnya.
“Terlalu panjang daftar ulama yang harus kita sebutkan kalau kita ingin melihat betapa Kyai Haji As’ad sebenarnya merupakan guru utama atau master atau syekh bagi ulama-ulama terpenting dan paling berpengaruh di Sulawesi Selatan sejak pertengahan abad 20 sampai berlanjut ke awal abad ke-21,” kata Wahyudddin.
KH Muhammad As’ad dilahirkan dan besar di Kota Mekkah, tahun 1907. Hari-harinya di Mekah dilalui dengan menuntut ilmu di Madrasah Al-Falah serta mengikuti pengajian halaqah di Masjidil Haram. Selama bermukim di sana, KH Muhammad As’ad juga pernah menuntut ilmu ke Medinah.
Pada usia yang masih belia, 15 tahun, dia sudah hafal Al-Quran 30 juz hingga dipercaya menjadi imam salat tarwih di Masjidilharam tiga tahun berturut-turut.
“Beliau pernah menjadi Imam tarawih di Masjidil Haram selama tiga tahun berturut-turut ketika beliau sudah baligh tentu saja ya. Sepanjang sejarah Indonesia, kita tahu memang ada ulama besar Indonesia yang pernah menjadi imam rawatib di Masjidil Haram seperti Imam As Sudais,” katanya.
Salah seorang cucunya, Asri, mengatakan, kakeknya terpanggil untuk pulang ke Indonesia, meninggalkan tanah kelahirannya setelah mendengar kabar banyaknya praktik kemusyrikan, penyembahan berhala dan penyimpangan ajaran Islam lainnya di Wajo ketika itu.
“Beliau datang ke Indonesia, langsung ke Wajo untuk menemui keluarganya. Namanya. KH Ambo Omme. Pada tahun itu dia minta izin sama saudara iparnya untuk mengisi halaqah yang berkembang menjadi madrasah dan belakangan menjadi pesantren,” kata Asri.
KH Muhammad As’ad juga sangat produktif dalam menulis. Buku-bukunya ditulis dalam bahasa Arab dan dan bahasa Bugis. Dakwah-dakwahnya yang dibawakan KH Muhammad As’ad dikenal moderat, mengembangkan keterbukaan, dan tidak fanatik mazhab tertentu, serta menggunakan pendekatan khazanah lokal.
KH. Muhammad As’ad wafat dalam usia yang masih sangat muda, 45 tahun, pada 1952. Namun, dia meninggalkan banyak sekali warisan yang luar biasa.
Selengkapnya kisah tentang KH.Muhammad As’ad dapat pembaca nonton dalam Program Jejak Ulama Sulsel, yang disiarkan Celebes TV, Senin (20/5/2019) pukul 17.00 wita. Siaran streaming Celebes TV dapat diakses melalui Celebesmedia.id, yang aplikasinya dapat diunduh melalui Play Store maupun Apps Store. (*)
Penulis : Muannas
