Tinjau Posko Gempa NTT, JK Dorong Percepatan Rekonstruksi
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Ketua Umum Palang Merah
Indonesia (PMI) Jusuf Kalla mendorong percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi
pascagempa di Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama pembangunan kembali rumah
warga yang rusak.
Jusuf Kalla menyampaikan hal tersebut saat mengunjungi posko
pengungsian di Gelora Samador dan posko BPBD Kabupaten Sikka, Maumere, Jumat
(28/8/2026).
Dalam kunjungan itu, JK didampingi Bupati Sikka Juventus
Prima Yoris Kago, Sekretaris Jenderal PMI AM Fachir, perwakilan Federasi
Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), serta sejumlah
pengurus PMI Pusat.
Menurut JK, penanganan bencana harus segera bergeser dari
tahap tanggap darurat menuju rehabilitasi dan rekonstruksi setelah kebutuhan
dasar para korban terpenuhi. Ia menyebut tempat tinggal sementara, makanan, dan
layanan kesehatan sebagai tiga kebutuhan utama dalam fase tanggap darurat.
"Kalau tiga hal ini terpenuhi, unsur tanggap darurat
sudah berjalan. Setelah itu masuk tahap rekonstruksi," ujar JK.
Ia mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara yang
rawan bencana karena berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik.
Namun, kesadaran masyarakat dalam menghadapi bencana dinilai
semakin meningkat, terutama setelah tragedi tsunami Aceh pada 2004.
JK mencontohkan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir
kini lebih sigap menyelamatkan diri dengan menuju tempat yang lebih tinggi
ketika terjadi gempa.
Meski demikian, ia menegaskan setiap korban tetap harus
mendapat perhatian, berapa pun jumlahnya.
"Namanya gempa tetap punya korban. Satu orang pun tetap
korban," katanya.
JK menilai pembangunan kembali rumah warga menjadi tantangan
utama setelah masa tanggap darurat berakhir. Besarnya kebutuhan material,
biaya, dan waktu membuat pemerintah tidak dapat bekerja sendirian.
Karena itu, ia mendorong pola gotong royong yang melibatkan
pemerintah, dunia usaha, masyarakat, perguruan tinggi, hingga organisasi
kemanusiaan.
Menurut dia, masyarakat yang terdampak harus menjadi bagian
dari proses pembangunan kembali, bukan sekadar penerima bantuan.
"Pemerintah bisa menyiapkan bahan, kemudian masyarakat
ikut bekerja membangun kembali rumahnya," ujar JK.
Ia mencontohkan penanganan pascagempa Yogyakarta, ketika
pemerintah menyediakan material bangunan dan masyarakat bersama mahasiswa
teknik terlibat dalam pembangunan rumah.
Warga juga mendapat dukungan biaya kerja sehingga tetap
memiliki penghasilan selama proses pemulihan.
"Jangan sampai pengungsi hanya duduk menunggu. Mereka
harus bekerja dan terlibat dalam membangun kembali kehidupannya," katanya.
Untuk penanganan di NTT, PMI akan melakukan pendataan
kebutuhan material di lapangan sebelum menyalurkan bantuan.
Sejumlah kebutuhan yang akan dipetakan antara lain seng, semen,
dan bahan bangunan lainnya.
JK juga meminta agar proses rekonstruksi mengutamakan
pemanfaatan material dan sumber daya lokal. Langkah tersebut dinilai dapat
mempercepat pembangunan sekaligus menekan biaya distribusi.
"Kalau ada bahan di sini, gunakan yang ada di sini.
Tidak perlu semuanya didatangkan dari luar karena ongkosnya lebih mahal,"
ujarnya.
JK menargetkan rehabilitasi dan rekonstruksi dapat
berlangsung sekitar enam bulan dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Ia berharap pengalaman penanganan bencana di daerah lain
dapat diterapkan di NTT sehingga para korban dapat segera kembali ke rumah dan
menjalani kehidupan normal.
"Bencana adalah persoalan kemanusiaan. Semua agama
mengajarkan untuk membantu orang yang sedang kesusahan. Itulah harapan
kita," kata JK.
