Wejangan Ekonomi Jusuf Kalla untuk Generasi Muda
Jusuf Kalla - (foto by Tim Media JK)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12
Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), menegaskan bahwa kreativitas, keberanian
mengambil risiko, serta kepercayaan (trust) merupakan modal utama bagi generasi
muda untuk menghadapi tantangan ekonomi global yang saat ini sedang mengalami
perlambatan.
Pernyataan tersebut disampaikan JK saat menjadi pembicara
dalam acara Amartha Asia Grassroots Forum yang berlangsung di Hotel Shangri-La,
Jakarta, Kamis (4/6).
Dalam paparannya, JK menjelaskan bahwa tekanan ekonomi saat
ini tidak hanya melanda Indonesia, melainkan hampir seluruh negara di dunia. Ia
menyoroti adanya pergeseran sistem ekonomi global, di mana peran negara kini
semakin dominan dalam aktivitas perekonomian dibandingkan era globalisasi
sebelumnya.
"Sekarang ekonomi di Indonesia dan di dunia ini menjadi
ekonomi yang lebih banyak melibatkan peran negara. Orang menyarankan bahwa
peran pemerintah lebih besar dibanding sebelumnya," ujar JK.
JK kemudian mencontohkan kebijakan proteksi perdagangan
berupa penerapan tarif impor tinggi oleh sejumlah negara besar seperti Amerika
Serikat. Fenomena serupa juga terjadi di dalam negeri, di mana pemerintah
Indonesia mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan komoditas strategis,
termasuk batu bara dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO).
Meski peran negara meningkat, tokoh bisnis nasional ini
mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dapat ditumpu hanya pada pundak
pemerintah. Sektor swasta dan masyarakat tetap memegang porsi terbesar dalam mendorong
produktivitas nasional.
Pemerintah tercatat hanya mampu memberikan pekerjaan kepada
sekitar empat juta orang. Sebaliknya, lapangan kerja bagi hampir seluruh
lapisan masyarakat justru diciptakan oleh para pelaku usaha melalui aktivitas
ekonomi dan investasi.
Atas dasar tersebut, JK menekankan pentingnya keseimbangan
hubungan antara pemerintah dan pelaku usaha. Menurutnya, jika sistem hanya
mengandalkan pemerintah, negara akan cenderung menjadi terlalu sosialis.
Sebaliknya, jika sepenuhnya diserahkan kepada pasar, perekonomian akan bergerak
ke arah liberalisme yang berlebihan.
Di hadapan peserta forum, JK memotivasi generasi muda agar
tidak mengurungkan niat memulai usaha hanya karena keterbatasan finansial.
Baginya, uang berada di urutan kedua setelah ide dan daya cipta.
"Kalau ingin berusaha, modal yang pertama adalah
inovasi, kreativitas, dan ide. Itu yang nomor satu. Yang kedua baru
modal," tegasnya.
Peluang bagi pelaku usaha pemula dan sektor Usaha Mikro,
Kecil, dan Menengah (UMKM) dinilai semakin terbuka lebar berkat adanya berbagai
fasilitas pembiayaan dari pemerintah, salah satunya lewat skema Kredit Usaha
Rakyat (KUR) berbunga rendah.
Selain faktor kreativitas, penguasaan teknologi informasi
terkini dan kecerdasan buatan (AI) dipandang sebagai instrumen wajib untuk
melahirkan inovasi baru. Generasi muda didorong untuk mulai menggeser
ketergantungan ekonomi dari sektor sumber daya alam menuju pembangunan
kemampuan teknologi mandiri.
Menutup pandangannya, JK menggarisbawahi bahwa dari seluruh
instrumen bisnis, kepercayaan merupakan aset paling krusial yang tidak boleh
dikompromikan oleh seorang wirausahawan. Kehilangan trust sama saja dengan menghentikan
keberlanjutan usaha.
"Seorang pengusaha modalnya adalah trust atau
kepercayaan. Begitu Anda tidak punya kepercayaan, orang tidak akan percaya
kepada Anda," kata JK.
Melalui forum ini, ia berharap generasi muda Indonesia dapat
terus konsisten mengasah kemampuan teknologi, berani memikul risiko, serta
menjaga integritas demi memajukan perekonomian bangsa di tengah kompleksitas
global.
"Percaya diri, kemampuan inovasi, kemauan, dan
keberanian menanggung risiko adalah hal yang dapat memajukan bangsa ini,"
pungkasnya.
