Jusuf Kalla: Dialog Kunci Cegah dan Selesaikan Konflik

Jusuf Kalla - (ist)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), menegaskan dialog merupakan cara paling efektif untuk mencegah sekaligus menyelesaikan berbagai konflik.

Menurut dia, dialog sejalan dengan nilai dasar bangsa Indonesia yang mengedepankan musyawarah dan mufakat.

Pernyataan itu disampaikan JK saat menghadiri peringatan 20 tahun Center for Dialogue and Cooperation Among Civilization (CDCC) bertema Belief of Dialogue di Hotel Ambhara, Jakarta Selatan, Jumat (24/7) malam.

Dalam sambutannya, JK mengapresiasi konsistensi CDCC dalam mendorong dialog antarperadaban. Ia menilai musyawarah dan mufakat yang menjadi dasar kehidupan berbangsa tidak dapat dipisahkan dari proses dialog.

"Musyawarah mufakat itu artinya dialog. Tidak ada musyawarah tanpa dialog. Karena itulah dasar bangsa ini ialah musyawarah dan dialog," ujar JK.

Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) itu menjelaskan, konflik di berbagai negara umumnya berawal dari perbedaan pandangan, kepentingan, ideologi, persoalan ekonomi, sosial, maupun wilayah.

Karena itu, dialog memiliki dua peran penting, yakni mencegah konflik melalui saling memahami kepentingan masing-masing pihak dan menyelesaikan konflik yang telah terjadi.

Menurut JK, penyelesaian konflik dapat ditempuh melalui kemenangan dalam peperangan atau mencari solusi bersama (win-win solution). Namun, ia menilai dialog merupakan jalan terbaik karena memungkinkan semua pihak memperoleh penyelesaian tanpa merasa dikalahkan.

"Win-win solution tentu bisa dicapai dengan persiapan yang baik dan pengetahuan tentang masalah yang dihadapi, sehingga tidak ada pihak yang merasa kalah," katanya.

JK juga menyoroti akar konflik di Indonesia yang banyak dipicu ketidakadilan. Dari 15 konflik besar yang pernah terjadi di Tanah Air, sekitar 10 di antaranya berawal dari persoalan ketidakadilan, baik di bidang ekonomi, sosial, maupun kewilayahan.

Ia mencontohkan konflik Aceh yang, menurutnya, tidak semata dipicu faktor agama, melainkan juga persoalan ketidakadilan ekonomi. Penyelesaiannya dilakukan melalui dialog yang disertai upaya menyelesaikan persoalan mendasar.

Berdasarkan pengalamannya membantu proses perdamaian di sejumlah daerah, JK menekankan bahwa dialog hanya dapat berjalan apabila diawali dengan adanya kepercayaan antarpihak yang berkonflik.

"Saya menyelesaikan tiga konflik di Indonesia dan semuanya dengan dialog. Dialog itu baru terjadi apabila ada kepercayaan," ujarnya.

JK juga menyinggung keterlibatannya dalam proses dialog perdamaian antara Taliban dan pemerintah Afghanistan di Doha. Menurutnya, pendekatan dialog menjadi langkah penting untuk mencegah konflik yang lebih luas.

Menutup pidatonya, JK berharap semangat dialog terus dikedepankan dalam menyelesaikan berbagai persoalan dunia. Menurutnya, keadilan menjadi fondasi utama untuk mewujudkan perdamaian dan kemakmuran.

"Apabila ingin melanjutkan dialog ini, intinya adalah bagaimana menciptakan keadilan untuk setiap bangsa. Keadilan akan menciptakan kedamaian dan kemakmuran," tutupnya.