Makanan dan Transportasi Dorong Inflasi Sulsel Naik Tipis 0,09 Persen

Sulsel inflasi bulanan 0,09 persen pada Mei 2026 - (foto by tangkapan layar laman BPS Sulsel)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Sulawesi Selatan mencatat inflasi bulanan atau month-to-month (m-to-m) sebesar 0,09 persen pada Mei 2026. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, kenaikan harga terutama dipicu oleh kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran serta transportasi.

Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami kenaikan indeks sebesar 0,81 persen dan memberikan andil 0,06 persen terhadap inflasi bulanan. Komoditas yang paling dominan mendorong inflasi pada kelompok ini adalah nasi dengan lauk dengan andil 0,05 persen, diikuti bakso siap santap sebesar 0,01 persen.

Kelompok transportasi juga menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil 0,06 persen. Kenaikan harga pelumas atau oli mesin memberikan andil 0,02 persen, sedangkan mobil menyumbang 0,01 persen.

Selain itu, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik 0,73 persen dengan andil 0,04 persen terhadap inflasi. Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya naik 0,53 persen, sementara kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan meningkat 0,52 persen.

Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami deflasi sebesar 0,47 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami deflasi sebesar 0,19 persen.

Secara tahunan, Sulawesi Selatan mencatat inflasi sebesar 3,12 persen pada Mei 2026 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,66. Sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) mencapai 2,18 persen.

Inflasi bulanan Sulawesi Selatan yang hanya 0,09 persen menunjukkan kondisi harga barang dan jasa relatif stabil selama Mei 2026. Meski terdapat kenaikan pada sektor jasa makanan dan transportasi, penurunan harga pada sejumlah komoditas pangan mampu meredam tekanan inflasi. 

Kenaikan harga di sektor jasa tidak mendorong inflasi lebih tinggi. Kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi daya beli masyarakat yang masih terjaga.