Rupiah Tembus 18.000 per USD, Ini Pemicunya
Ilustrasi - (foto by freepik)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Nilai tukar rupiah menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot pada Selasa (29/9/2026) pagi. Pelemahan terjadi di tengah tekanan global yang semakin kuat dan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi akibat kenaikan harga minyak.
Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak Brent kembali bertahan di atas USD106 per barel. Kondisi ini menjadi beban bagi rupiah karena berpotensi meningkatkan inflasi sekaligus kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor minyak dan produk turunannya.
Tekanan juga datang dari Amerika Serikat. Menurut laporan Bloomberg, pelaku pasar meningkatkan ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga acuan The Fed. Imbasnya, yield US Treasury tenor 10 tahun naik menjadi 5,24%, sehingga aset berbasis dolar AS semakin menarik.
Pergerakan tersebut turut menekan pasar obligasi Indonesia. Yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 5 tahun naik menjadi 7,06%, sedangkan tenor 10 tahun meningkat 4,2 basis poin menjadi 7,14%
Pelemahan rupiah juga tidak hanya dipicu faktor eksternal. Dari dalam negeri, pasar menghadapi meningkatnya ekspektasi inflasi, prospek neraca perdagangan yang lebih tipis, serta kebutuhan pembiayaan fiskal ketika yield global masih tinggi
Inflasi Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 3,3% secara tahunan pada September. Meski masih berada dalam sasaran Bank Indonesia, kenaikan harga minyak berpotensi menambah tekanan terhadap inflasi dan mempersempit ruang BI untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Di sisi perdagangan, impor Agustus diperkirakan tumbuh 27,8% secara tahunan, lebih tinggi dari 27,02% pada Juli. Sementara ekspor hanya diperkirakan tumbuh 2,5%, melambat dari 6,05% pada bulan sebelumnya.
Kondisi tersebut berpotensi membuat kebutuhan dolar untuk impor tumbuh lebih cepat dibandingkan pasokan devisa dari ekspor. Situasi ini belum tentu langsung menyebabkan defisit perdagangan, tetapi dapat mempersempit bantalan eksternal yang selama ini membantu menopang rupiah.
Harga minyak, kebijakan The Fed, kenaikan yield global, serta prospek perdagangan domestik membuat rupiah menghadapi tekanan dari sisi eksternal dan internal secara bersamaan.
Sumber: Bloomberg
