Harga Cabai Naik, Ibu Rumah Tangga dan Pedagang Putar Otak
CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Kenaikan harga cabai rawit mulai dirasakan masyarakat di Gowa dan Makassar. Kondisi tersebut membuat sejumlah ibu rumah tangga harus memutar otak agar kebutuhan sambal di meja makan tetap terpenuhi tanpa membuat pengeluaran dapur membengkak.
Berdasarkan pantauan CelebesMedia.id, Minggu (4/10), harga cabai rawit di Pasar Pa'baeng-Baeng Makassar berada di kisaran Rp80 ribu hingga Rp85 ribu per kilogram.
Sementara itu, cabai rawit yang telah dibersihkan atau tanpa tangkai dijual sekitar Rp90-100 ribu per kilogram.
Harga cabai rawit di Pasar Subuh Gowa relatif lebih murah dibandingkan Makassar. Komoditas tersebut berada di kisaran Rp75 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram.
Kenaikan harga cabai rawit ini turut dikeluhkan ibu rumah tangga maupun pedagang makanan yang sehari-hari membutuhkan cabai sebagai bahan utama sambal.
Salah satunya Jumiati, warga Katangka, Gowa. Ia mengatakan keluarganya hampir selalu mencari sambal atau cobek-cobek sebagai pelengkap saat makan.
Namun, melonjaknya harga cabai membuat dirinya harus mencari cara agar kebutuhan sambal keluarga tetap terpenuhi.
"Karena harga cabai saat ini mahal, saya terpaksa menyiasati dengan mencampur cabai asli dan sambal olahan pabrik, seperti sambal terasi," kata Jumiati.
Menurutnya, kondisi harga cabai saat ini cukup terasa dibandingkan sebelumnya. Jika dahulu ia masih bisa membeli cabai dengan uang Rp2 ribu hingga Rp3 ribu dari pedagang sayur keliling, kini harga pembelian paling sedikit sudah mencapai Rp5 ribu.
"Dulu bisa beli di pedagang sayur keliling Rp2-3 ribu rupiah. Saat ini harga cabai rawit di pedagang sayur keliling minimal Rp5 ribu rupiah. Itupun jumlah cabainya bisa dihitung jari," ujarnya.
Bagi Jumiati, cabai menjadi salah satu kebutuhan dapur yang sulit dihilangkan karena sambal sudah menjadi bagian dari menu makan keluarganya.
Karena itu, kenaikan harga cabai membuatnya harus mengatur kembali belanja kebutuhan dapur. Salah satu cara yang dilakukan yakni mengurangi jumlah cabai segar dan mencampurnya dengan sambal olahan pabrik.
Kenaikan harga cabai rawit tidak hanya berdampak pada ibu rumah tangga. Pedagang makanan juga harus mencari strategi agar kenaikan harga bahan baku tidak terlalu membebani biaya usaha.
Dg. Taba, penjual bakso di Kabupaten Gowa, mengatakan kenaikan harga cabai membuat pedagang makanan, khususnya yang menyediakan sambal, harus pandai mencari solusi.
Ia memilih tetap menyediakan sambal tumis, tetapi menggunakan cabai kering yang diolah karena biaya modalnya dinilai lebih murah.
"Pedagang makanan khususnya yang menyediakan sambal seperti dagangan saya harus pandai-pandai mencari solusi," kata Dg. Taba.
Ia mengatakan selain sambal tumis berbahan cabai kering, dirinya juga tetap menyediakan sambal olahan pabrik.
Dengan begitu, pelanggan memiliki pilihan sesuai selera sekaligus membantu pedagang menekan biaya bahan baku di tengah kenaikan harga cabai.
"Untuk sambal, saya tetap siapkan sambal tumis dengan memanfaatkan cabai kering yang diolah karena harga modalnya akan lebih murah. Saya juga tetap menyiapkan sambal olahan pabrik jadi pembeli bisa bebas memilih," ujarnya.
Kondisi harga cabai rawit yang masih tinggi membuat masyarakat dan pelaku usaha makanan harus melakukan penyesuaian. Bagi ibu rumah tangga, penghematan dilakukan dengan mengatur jumlah pembelian dan mencari alternatif sambal, sementara pedagang makanan memilih menyesuaikan bahan baku tanpa menghilangkan pilihan sambal bagi pelanggan.
