Nilai Transaksi UMKM Sulsel di KKI 2026 Tembus Rp380,75 Juta

CELEBESMEDIA.ID, MakassarUMKM Sulawesi Selatan mencatat peluang transaksi ekspor lebih dari Rp380,75 juta dalam ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026. Nilai tersebut berasal dari kesepakatan Letter of Intent (LOI) antara tujuh UMKM Sulsel dan sejumlah pembeli dari luar negeri.

Kegiatan Business Matching (BM) Ekspor KKI 2026 berlangsung pada 20–22 Agustus 2026. Forum tersebut menjadi ruang bagi pelaku UMKM Sulsel untuk memperluas pasar sekaligus memperkenalkan produk unggulan daerah kepada calon pembeli internasional.

Dari sejumlah kesepakatan yang terbentuk, Kopi Luwak Malino dari Gowa mencatat nilai transaksi terbesar. Produk kopi Arabica Malino memperoleh LOI dengan PT Cahaya Abadi Terbit dari Kanada senilai Rp245 juta.

Posisi berikutnya ditempati CV Panrita Jaya Group dari Makassar dengan produk kopi Arabica Toraja dan Arabica Enrekang. UMKM tersebut menyepakati LOI dengan PT Sumber Kurnia Alam dari Singapura senilai Rp92,25 juta.

Selain kedua transaksi tersebut, Kopi Luwak Malino juga mendapatkan peluang kerja sama dengan Guangzhou/ITHG dari Tiongkok. Kesepakatan lainnya melibatkan Kopivolusi dengan Dua DC Coffee dari Amerika Serikat untuk produk kopi Arabica.

Sementara itu, PT Bunly Abadi Bersama memperoleh peluang pasar ekspor untuk produk kacang mete melalui Toko Indo di Singapura dan Etoobai di Amerika Serikat.

Secara keseluruhan, potensi transaksi ekspor UMKM Sulsel dalam kegiatan tersebut diperkirakan mencapai lebih dari Rp380,75 juta.

Kegiatan business matching ekspor tersebut merupakan bagian dari upaya Bank Indonesia Sulawesi Selatan (BI Sulsel) memperkuat UMKM dari hulu hingga hilir. Pengembangan dilakukan melalui peningkatan kapasitas usaha, penguatan rekam jejak keuangan, peningkatan visibilitas UMKM, serta perluasan akses pasar.

BI Sulsel melibatkan sejumlah UMKM dalam 14 sesi business matching ekspor secara offline dan satu sesi secara online selama KKI 2026.

UMKM yang mengikuti kegiatan tersebut antara lain Kopi Luwak Malino dari Gowa, CV Panrita Jaya Group dari Makassar, Kopivolusi Niwa Indonesia dari Makassar, Sehati Kopi dari Makassar, My Coffeeza Indonesia dari Enrekang, PT Bunly Abadi Bersama dari Makassar, serta CV Al Razak Corp dari Enrekang.

Penguatan akses pasar tersebut menjadi bagian dari program UMKM Rewako (Resilient, World Class, Agile, dan Knowledgable) yang dikembangkan BI Sulsel untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha daerah.

Tantangan UMKM, menurut Bank Indonesia, bukan hanya soal ketersediaan pembiayaan, tetapi juga kesiapan usaha, persepsi risiko, serta kemampuan mempertemukan pelaku usaha dengan lembaga keuangan.

“Bank Indonesia berperan sebagai katalis dalam memperkuat pembiayaan UMKM dari sisi supply dan demand." ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman.

Dari sisi supply, Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) memberikan insentif likuiditas kepada perbankan yang menyalurkan pembiayaan kepada UMKM. Sementara itu, Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) mendorong perluasan pembiayaan inklusif.

Dari sisi demand, digitalisasi pembayaran memanfaatkan QRIS membangun rekam jejak usaha.

Lebih lanjut, Aida menyampaikan, “Penguatan ekosistem pembiayaan UMKM ke depan memerlukan komitmen yang konsisten, inovasi yang adaptif, serta sinergi yang semakin erat antara Bank Indonesia, Pemerintah, sektor keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya."

KKI 2026 digelar pada 20–23 Agustus 2026 dengan mengusung semangat Beudaya Meusare Sare yang berarti “Berdaya Bersama-sama”.

Selain membuka peluang ekspor, KKI 2026 juga menjadi momentum penguatan akses pembiayaan bagi UMKM. Dalam agenda Gebyar Pembiayaan pada 21 Agustus 2026, delapan lembaga keuangan menandatangani kesepakatan pembiayaan dengan UMKM mitra masing-masing.

Lembaga keuangan yang terlibat yakni BRI, BCA, BSI, Mandiri, SMBC, Panin Bank, OCBC, dan BNI. Kesepakatan tersebut merupakan hasil fasilitasi business matching pembiayaan UMKM oleh Bank Indonesia.

Hingga Juli 2026, fasilitasi business matching pembiayaan telah mencapai Rp285 miliar, terdiri dari pembiayaan inklusif Rp150 miliar dan pembiayaan berkelanjutan Rp135 miliar.

Capaian tersebut masih berpotensi bertambah seiring dengan realisasi pembiayaan hingga akhir 2026.

Melalui KKI 2026, BI Sulsel bersama pemangku kepentingan terkait terus mendorong UMKM agar tidak hanya memiliki akses pembiayaan, tetapi juga mampu memperluas pasar dan meningkatkan nilai transaksi di pasar global.

Upaya tersebut diharapkan memperkuat kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang lebih tinggi, inklusif, dan berkelanjutan.