Inflasi Sulsel Juni 0,36 Persen, Dipicu BBM dan Tiket Pesawat
CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Laju inflasi bulanan di Sulawesi Selatan kembali meningkat pada Juni 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Rabu (1/7) mencatat inflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,36 persen dibanding inflasi Mei 0,09 persen). Angka ini lebih rendah dibanding inflasi bulanan nasional 0,44 persen.
Sementara inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) mencapai 2,54 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,06.
Kenaikan inflasi kali ini terutama dipicu oleh meningkatnya biaya transportasi, disusul kenaikan harga sejumlah bahan pangan dan layanan komunikasi.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga masih didominasi faktor energi dan distribusi, meski secara umum inflasi masih berada pada level yang relatif terkendali.
Secara wilayah, inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Luwu Timur sebesar 4,32 persen dengan IHK 113,76, sedangkan inflasi terendah terjadi di Bulukumba sebesar 2,57 persen dengan IHK 110,54.
BPS mencatat hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga selama Juni 2026. Kelompok transportasi menjadi yang tertinggi dengan inflasi 1,41 persen, diikuti kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,58 persen, perlengkapan serta pemeliharaan rumah tangga 0,54 persen, pendidikan 0,40 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 0,39 persen, kesehatan 0,36 persen, makanan, minuman, dan tembakau 0,16 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,16 persen, pakaian dan alas kaki 0,19 persen, serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran 0,09 persen.
Sebaliknya, hanya kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami deflasi sebesar 0,03 persen.
Dari seluruh kelompok pengeluaran, sektor transportasi memberikan sumbangan terbesar terhadap inflasi umum Sulsel, yakni 0,17 persen. Penyebab utamanya berasal dari kenaikan harga bensin yang menyumbang 0,11 persen, disusul tarif angkutan udara sebesar 0,03 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar kedua dengan andil 0,05 persen. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain ikan layang atau ikan benggol, cabai merah, bawang merah, minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin (SKM), wortel, cabai rawit, ikan tuna, dan daun bawang.
Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan menyumbang inflasi sebesar 0,04 persen, terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga telepon seluler yang memberikan andil 0,03 persen.
Melihat komposisi penyumbang inflasi, kenaikan harga bahan bakar dan tarif transportasi masih menjadi faktor paling dominan dalam membentuk inflasi bulanan di Sulawesi Selatan. Ketika biaya mobilitas meningkat, ongkos distribusi barang ikut terdorong sehingga berdampak pada harga berbagai kebutuhan masyarakat.
Selain itu, naiknya harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai merah, bawang merah, ikan layang, minyak goreng, dan beras menunjukkan pasokan bahan pangan masih menjadi faktor yang perlu dijaga, terutama memasuki periode dengan permintaan yang tinggi.
Inflasi yang hanya mencapai 0,36 persen mengindikasikan tekanan harga belum berlangsung secara berlebihan. Namun, stabilitas pasokan pangan dan kelancaran distribusi tetap harus terjaga agar kenaikan harga energi tidak semakin meluas ke komoditas lain.
