OJK Sebut Ekonomi Stabil, IHSG Malah Anjlok 29,79 Persen

CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Perekonomian Indonesia dinilai masih relatif stabil di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut inflasi domestik tetap terkendali, konsumsi masyarakat masih kuat, dan sektor keuangan mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK dalam konfrensi pers Rapat Dewan Komisioner OJK, Senin (5/10). Kondisi domestik dinilai cukup resilien meski ekonomi global menghadapi tekanan dari konflik geopolitik, kenaikan harga minyak dan pangan, serta kebijakan suku bunga global yang masih ketat.

Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah digelar pada Rabu (30/9) lalu. 

OJK mencatat inflasi Indonesia tetap berada dalam sasaran pemerintah. Kondisi tersebut membantu menjaga daya beli dan permintaan domestik, sehingga konsumsi masyarakat masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi.

Optimisme terhadap ekonomi Indonesia juga tercermin dari langkah OECD yang menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 sebesar 0,5 persen. Kenaikan proyeksi tersebut menunjukkan masih adanya kepercayaan terhadap daya tahan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Namun, tekanan terlihat cukup kuat di pasar keuangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.071,14 pada akhir September 2026, turun 6,96 persen secara bulanan dan telah terkoreksi 29,79 persen sejak awal tahun.

Tekanan juga terlihat dari arus modal asing. Investor asing mencatatkan net sell saham sebesar Rp10,24 triliun sepanjang September, berbalik dari posisi net buy Rp1,19 triliun pada Agustus.

Meski demikian, likuiditas pasar saham masih dinilai terjaga. Rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp14,94 triliun, meski turun dari Rp15,86 triliun pada Agustus. Sementara rata-rata bid-ask spread tercatat 1,20 persen, relatif stabil dari 1,17 persen pada bulan sebelumnya.

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun tipis 0,23 persen secara bulanan ke level 439,05. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) rata-rata naik 14,12 basis poin, mengikuti kenaikan yield obligasi pemerintah global.

Investor asing juga mencatat net sell SBN sebesar Rp340 miliar pada September, jauh lebih kecil dibandingkan net buy Rp15,35 triliun pada Agustus.

Di sisi lain, minat korporasi memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan masih tinggi. Hingga akhir September 2026, nilai penghimpunan dana melalui Penawaran Umum mencapai Rp186,03 triliun.

Jumlah investor pasar modal juga terus bertambah. Sepanjang September terdapat 1,03 juta investor baru. Secara tahunan berjalan, jumlah investor telah mencapai 32,17 juta atau tumbuh 57,96 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan perekonomian domestik masih memiliki penopang yang cukup kuat, meski pasar keuangan menghadapi tekanan akibat tingginya ketidakpastian global.

OJK menyatakan akan terus menjaga stabilitas sektor jasa keuangan sekaligus mendorong pasar modal menjadi sumber pembiayaan ekonomi dengan tetap memperkuat transparansi dan pelindungan investor.