Rupiah Melemah, Minat Masyarakat ke Emas Kian Kuat

Pengamat ekonomi, Dr. Sutardjo Tui - (ist)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Tren kenaikan harga emas di Indonesia kembali menjadi perhatian pengamat ekonomi. Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) 24 karat sempat mencetak rekor tertinggi sebelum terkoreksi tipis pada Selasa (27/1/2026).

Berdasarkan data terbaru, harga emas Antam ukuran 1 gram berada di level Rp 2.916.000, turun Rp 1.000 dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai sekitar Rp 2.917.000 per gram. Meski koreksi kecil terjadi, harga emas secara umum masih berada di posisi sangat tinggi.

Pengamat ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. Sutardjo Tui, menilai lonjakan harga emas sepanjang Januari dipicu oleh menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap kondisi perekonomian nasional.

Pelemahan daya beli dan ketidakpastian arah kebijakan ekonomi membuat masyarakat mencari instrumen penyimpan nilai yang lebih aman.

“Masyarakat itu kan sudah mulai tidak percaya dengan kecenderungan ekonomi lemah kita, daya beli kita kan mulai lemah,” ungkap Dr Sutardjo saat dihubungi, Selasa (27/1) sore.

Menurutnya, emas dipilih karena dinilai mampu menjaga nilai kekayaan di tengah situasi ekonomi yang tidak stabil. Kondisi ini diperkuat oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, yang saat ini nyaris menyentuh Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat.

“Rupiah mulai melemah sekali sehingga untuk pengamannya masyarakat, dia lebih bagus simpan uang di emas,” ujarnya.

Dr Sutardjo menjelaskan, emas termasuk dalam kategori investasi riil atau real investment karena memiliki bentuk fisik yang jelas dan mudah dicairkan, baik melalui penjualan maupun gadai. 

Hal ini membuat emas dinilai lebih fleksibel dibandingkan instrumen keuangan lain seperti saham, deposito, atau obligasi, terutama dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian.

Ia juga menilai tren pembelian emas sebenarnya bukan fenomena baru. Minat masyarakat terhadap emas telah meningkat sejak beberapa tahun terakhir, terutama sejak masa pandemi.

“Sudah lama orang membeli emas sejak 2021, sudah mulai berlomba-lomba membeli emas,” katanya.

Dalam situasi saat ini, Dr Sutardjo menyarankan masyarakat untuk menyesuaikan pilihan investasi dengan kemampuan finansial masing-masing. 

Bagi pemilik modal besar, diversifikasi investasi tetap diperlukan agar risiko dapat tersebar. Namun bagi masyarakat dengan dana terbatas, emas dinilai sebagai pilihan yang relatif aman dan likuid.

“Kalau bagi yang kurang uangnya, ya lebih bagus emas. Emas kalau butuh uang kan bisa dijual, digadaikan,” tutupnya.

Laporan: Rifki