Cadangan Devisa Turun Dipakai Stabilisasi Rupiah dan Bayar Utang LN
Ilustrasi Rupiah - (foto by Pixabay)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tercatat 148,2 miliar dolar AS. Angka ini menurun 3,7 miliar dolar dibandingkan posisi akhir Februari 2026 sebesar 151,9 miliar dolar AS.
Meski menurun, Bank Indonesia menilai angka itu masih tetap tinggi, dan berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Menurut Bank Indonesia, perkembangan ini dipengaruhi oleh penerbitan global bond pemerintah dan penerimaan pajak dan jasa di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.
"Kebijakan stabilisasi tersebut sebagai respons Bank Indonesia terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat," demikian pernyataan Bank Sentral, namun tidak dijelaskan jumlah pembayaran utang LN dan biaya stabilisasi nilai tukar rupiah.
Posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2026 setara dengan pembiayaan 6,0 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Ke depan, Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.
Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dalam pernyataan terpisah, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini menembus level Rp17.100 per dolar AS telah masuk dalam hitungan simulasi pemerintah.
Menkeu menyatakan bahwa kondisi kurs tersebut tidak serta-merta mengganggu postur belanja maupun penerimaan negara karena pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario cadangan.
