Ekonomi Sulsel 2026 Diproyeksi Tumbuh hingga 6,2 Persen
Kepala Perwakilan BI Sulawesi Selatan Rizki Ernadi Wimanda - (foto by Rini)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan tetap optimistis ekonomi Sulsel tumbuh kuat sepanjang 2026. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi daerah berada di kisaran 5,4 hingga 6,2 persen, meski kinerja pada triwulan II mengalami perlambatan.
Kepala Perwakilan BI Sulawesi Selatan Rizki Ernadi Wimanda mengatakan pertumbuhan ekonomi Sulsel pada triwulan II 2026 mencapai 5,59 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Angka itu turun dari 6,88 persen pada triwulan II 2025.
Namun, secara quarter to quarter (q-t-q) tumbuh 6,09 persen. Artinya: Ekonomi Sulsel di Apr-Jun 2026 tumbuh 6,09 persen, dibanding Jan-Mar 2026, ekonomi Sulsel masih tumbuh 6,09 persen.
"Kami masih optimistis bahwa tahun 2026 ini akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan 2025, di kisaran 5,4 sampai 6,2 persen. Kemudian tahun 2027 juga meningkat, tetapi peningkatannya sedikit," ujar Rizki Ernadi Wimanda dalam media engagement jurnalis Sulsel, Kamis (27/8).
Perlambatan triwulan II terutama dipengaruhi normalisasi konsumsi setelah aktivitas ekonomi meningkat pada triwulan I yang bertepatan dengan Ramadan dan Idulfitri. Ekspor juga tertekan sekitar 5 persen, sedangkan konsumsi pemerintah melambat dan impor turun sekitar 9,3 persen.
Di tengah tekanan tersebut, investasi justru meningkat dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan. Dari sisi lapangan usaha, pertanian mengalami kontraksi sekitar 0,3 persen. Perlambatan juga terjadi pada perdagangan dan industri pengolahan, sementara konstruksi masih tumbuh.
Struktur ekonomi Sulsel yang masih bergantung pada sektor berbasis sumber daya dan komoditas menjadi perhatian BI. Pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi kontributor terbesar, diikuti perdagangan, industri pengolahan, dan konstruksi.
Selain pertumbuhan, BI menyoroti risiko inflasi, terutama dari kelompok pangan bergejolak. Meski Juli mencatat deflasi secara bulanan, tekanan harga secara kumulatif sepanjang tahun masih perlu diantisipasi.
Sejumlah komoditas yang memberi tekanan antara lain ikan layang, tomat, minyak goreng, beras, dan sigaret kretek. Ikan layang bahkan mencatat inflasi sekitar 19,24 persen hingga Juli 2026
"Ikan layang masih menduduki posisi pertama dengan inflasi sekitar 19,24 persen sampai dengan Juli. Kemudian bensin, emas perhiasan, dan minyak goreng," katanya.
BI menilai pengendalian inflasi membutuhkan sinergi pemerintah daerah dan pelaku usaha, terutama dalam menjaga pasokan, distribusi, serta keterjangkauan harga.
"Bank Indonesia tidak hanya mengandalkan naik turunnya suku bunga, tetapi juga melalui TPIP dan TPID, baik di tingkat pusat maupun daerah," ujarnya.
Untuk menjaga pertumbuhan, BI mendorong penguatan sektor pertanian dan peningkatan investasi produktif. Pengembangan pertanian diarahkan pada satu hingga tiga komoditas unggulan di setiap sentra produksi, disertai penguatan akses pasar.
Komoditas yang dinilai potensial mencakup kakao, kopi, padi, jagung, perikanan, dan rumput laut. BI juga mendorong kemitraan petani dan nelayan dengan perusahaan atau koperasi sebagai off-taker agar pemasaran hasil produksi lebih terjamin.
"Fokus saja kepada satu sampai tiga komoditas berbasis sentra produksi dan akses pasar. Kemudian bangun kontrak dengan off-taker. Dengan adanya off-taker, tugas petani atau nelayan adalah memproduksi, sementara bagaimana memasarkan bisa dipercayakan kepada off-taker," jelasnya.
Kelanjutan proyek strategis pemerintah juga dinilai dapat membuka ruang investasi dan memperkuat pertumbuhan ekonomi Sulsel.
"Upside risk-nya adalah stimulus fiskal masih ada, penguatan produktivitas pertanian, kemudian kelanjutan proyek-proyek strategis pemerintah yang mendorong investasi," katanya.
