Bank Indonesia - (foto by provices.co.id)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2026 tercatat inflasi sebesar 0,68% (mtm). 

Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara tahunan tercatat sebesar 4,76% (yoy), Februari 2026 terhadap Februari 2025.

Meski demikian, ke depan, Bank Indonesia, menurut Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, meyakini inflasi 2026 dan 2027 secara tahunan akan menurun sehingga tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1%. 

Hal itu sejalan dengan berakhirnya low base effect pada inflasi tahunan Februari 2026 akibat kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50% pada Januari-Februari 2025.

Prakiraan ini juga didukung oleh konsistensi kebijakan moneter dan eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah (Pusat dan Daerah) dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.

Menurut BI, perkembangan inflasi Februari itu, dipengaruhi oleh inflasi inti dan inflasi volatile food yang terkendali serta deflasi pada kelompok administered.

Inflasi inti pada Februari 2026 dinilai tetap terkendali, tercatat sebesar 0,42% (mtm), lebih tinggi dari realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,37% (mtm). 

Perkembangan inflasi inti tersebut dipengaruhi terutama oleh kenaikan harga komoditas emas global tecermin pada inflasi komoditas emas perhiasan, serta inflasi pada komoditas minyak goreng dan mobil di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga. 

Secara tahunan, inflasi inti pada Februari 2026 tetap terkendali yang tercatat sebesar 2,63% (yoy).

Inflasi kelompok volatile food tetap terjaga di tengah perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Tahun Baru Imlek dan periode Ramadan 1447 H. 

Inflasi kelompok volatile foid tetap terjaga di tengah perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional Tahun Baru Imlek dan periode Ramdan 1447 H.

Kelompok volatile food pada Februari 2026 mengalami inflasi sebesar 2,50% (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mengalami deflasi sebesar 1,96% (mtm).

 Inflasi kelompok volatile food disumbang antara lain oleh komoditas daging ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah seiring dengan peningkatan permintaan pada periode Ramadan dan penurunan pasokan akibat gangguan cuaca. Secara tahunan, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 4,64% (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 1,14% (yoy). 

Ke depan, inflasi volatile food diprakirakan terkendali didukung oleh eratnya sinergi antara Bank Indonesia bersama TPIP dan TPID serta penguatan implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Kelompok administered prices pada Februari 2026 tercatat deflasi sebesar 0,03% (mtm), melanjutkan deflasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,32% (mtm). 

Deflasi terutama disumbang oleh komoditas bensin seiring dengan penurunan harga BBM nonsubsidi pada Februari 2026. 

Secara tahunan, kelompok administered prices tercatat inflasi sebesar 12,66% (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 9,71% (yoy), terutama disebabkan oleh faktor low base effect seiring dengan implementasi kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50% pada Januari-Februari 2025.