Anda Harus Tahu, Otak Ternyata Tidak Bisa Merasakan Sakit
Ilustrasi - (foto by Pixabay)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Otak adalah pusat kendali tubuh manusia. Organ ini mengatur gerakan, ingatan, emosi hingga memproses rasa sakit. Namun, ada fakta yang terdengar paradoks, otak sendiri ternyata tidak bisa merasakan sakit.
Ketika seseorang mengalami sakit kepala, bukan berarti jaringan otaknya sedang merasakan nyeri. Rasa sakit tersebut justru berasal dari jaringan di sekitar otak yang memiliki kemampuan mendeteksi rangsangan nyeri.
Otak tidak memiliki nociceptor, yakni reseptor sensorik yang mendeteksi rangsangan berbahaya dan mengirimkan sinyal nyeri ke sistem saraf. Karena itu, jaringan otak tidak dapat merasakan sakit secara langsung.
Lantas, mengapa kepala bisa terasa begitu sakit?
Jawabannya ada di sekitar otak. Kulit kepala, otot, pembuluh darah, saraf tertentu, serta selaput yang membungkus otak memiliki struktur yang sensitif terhadap nyeri.
Ketika bagian-bagian tersebut mengalami tekanan, peradangan, atau gangguan lain, sinyal nyeri dikirim ke otak untuk diproses.
Otak kemudian menerjemahkan sinyal tersebut menjadi pengalaman yang kita kenal sebagai sakit.
Mekanisme ini juga menjelaskan salah satu hal yang terdengar mengejutkan dalam dunia medis. Dalam kondisi tertentu, operasi pada jaringan otak dapat dilakukan ketika pasien tetap sadar.
Bukan berarti prosedur tersebut tanpa rasa sakit, melainkan karena jaringan otak itu sendiri tidak memiliki reseptor nyeri.
Rasa sakit tetap dapat muncul dari kulit kepala, tulang, selaput otak, atau jaringan lain yang harus ditangani selama prosedur.
Jadi, ketika kepala terasa berdenyut atau nyeri, sumbernya bukan jaringan otak yang sedang “kesakitan”.
Pada sakit kepala dan migrain, misalnya, sejumlah struktur yang peka terhadap nyeri di kepala dapat terlibat.
Aktivitas saraf dan perubahan pada pembuluh darah serta zat kimia tertentu kemudian dapat memicu rangkaian sinyal yang akhirnya dipersepsikan sebagai rasa sakit.
Di sinilah peran otak menjadi penting. Meski tidak memiliki reseptor nyeri, otak merupakan pusat yang menerima dan mengolah sinyal dari seluruh tubuh.
Dari proses itulah manusia menyadari bahwa ada bagian tubuh yang mengalami cedera atau gangguan.
Rasa sakit pun bukan sekadar tanda adanya kerusakan fisik. Pengalaman nyeri juga dipengaruhi oleh cara otak memproses sinyal, sehingga tingkat rasa sakit yang dirasakan setiap orang bisa berbeda meski pemicunya serupa.
Dengan kata lain, otak bukan organ yang merasakan sakit, melainkan organ yang membuat manusia mampu merasakan dan memahami sakit.
Fakta ini menjadi salah satu keunikan sistem saraf manusia. Organ yang bertugas menerjemahkan rasa sakit dari seluruh tubuh justru tidak dapat merasakan nyeri secara langsung.
Fakta bahwa jaringan otak tidak memiliki reseptor nyeri didukung oleh literatur medis dan penelitian mengenai bedah otak sadar (awake craniotomy).
Sejumlah studi yang dipublikasikan melalui PubMed menunjukkan bahwa nyeri selama prosedur bedah otak umumnya berasal dari struktur yang peka terhadap nyeri di sekitar otak, bukan dari jaringan otak itu sendiri.
Temuan tersebut memperkuat pemahaman dalam ilmu saraf mengenai bagaimana tubuh mendeteksi, mengirimkan, dan memproses rasa sakit.
