Ilustrasi - (foto by freepik)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Flu (Influenza) adalah penyakit infeksi saluran pernapasan yang disebabkan virus influenza, menyerang hidung, tenggorokan, dan kadang paru-paru, yang dapat menyebabkan sakit ringan hingga berat.

Gejalanya sering datang tiba-tiba seperti demam, batuk, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. WHO mencatat influenza musiman menyebabkan jutaan kasus penyakit berat dan ratusan ribu kematian setiap tahun di seluruh dunia.

Sementara itu, istilah “superflu” bukan nama medis resmi menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Istilah ini populer digunakan masyarakat untuk merujuk pada varian influenza A(H3N2) subclade K yang belakangan ini menunjukkan penyebaran dan dominasi lebih cepat dalam gelombang kasus flu 2025–2026. Istilah ini muncul di berbagai pemberitaan namun tidak diakui sebagai penyakit oleh otoritas kesehatan.

Perbedaan lainnya dari sifat dan penyebarannya. Mengutip laman resmi WHO, flu biasa disebabkan oleh virus influenza termasuk tipe A dan B yang bermutasi setiap musim, memicu epidemi musiman tahunan yang dipantau WHO secara global.

Superflu sebenarnya tetap merupakan virus influenza A(H3N2), hanya sebuah sub-kelompok genetik (subclade K) dari virus yang sudah dikenal. Perbedaannya ada pada pola dominasi genetik dan peningkatan kasus, bukan virus yang sama sekali baru.

Secara klinis, gejala superflu mirip dengan flu biasa yakni demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan kelemahan tubuh. Tidak ada gejala yang benar-benar unik hanya untuk varian ini yang bisa dibedakan tanpa pemeriksaan laboratorium genomik.

Mengutip Antara, meski beberapa pemberitaan menyebut varian ini mungkin tampak lebih agresif atau cepat menyebar. Namun otoritas kesehatan global seperti WHO dan analisis CDC menegaskan bahwa subclade tersebut belum menunjukkan bukti peningkatan keparahan di luar influenza musiman biasa.

Flu bisa menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, gangguan pernapasan, hingga kematian, khususnya pada kelompok rentan seperti balita, lansia, dan mereka dengan kondisi medis kronis. WHO memperkirakan influenza musiman menyumbang jutaan kasus berat dan ratus ribu kematian per tahun.

Istilah “superflu” sering disebut lebih “berat” oleh beberapa media, namun berdasarkan evaluasi epidemiologis WHO dan CDC, tingkat keparahannya saat ini tidak jauh berbeda dari influenza tipe A yang sudah ada.

Terkait pencegahan dan pengobatan, tidak ada penanganan yang berbeda antara penderita superflu dan flu biasa. WHO dan CDC merekomendasikan langkah preventif berikut:

  • Vaksinasi influenza tahunan tetap menjadi cara utama mencegah sakit berat, rawat inap, dan kematian akibat flu.
  • Cuci tangan rutin, etika batuk/bersin, serta tinggal di rumah saat sakit membantu mengurangi penularan.
  • Perawatan simptomatis dan, jika perlu, obat antiviral sesuai petunjuk tenaga medis.