Benarkah Terlalu Sering Pakai Obat Kumur Bisa Ganggu Kesehatan?

Ilustrasi - (int)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Obat kumur selama ini dikenal sebagai pelengkap untuk menjaga kebersihan dan kesegaran mulut. Namun, di balik sensasi segar setelah berkumur, muncul pertanyaan lain, apakah penggunaan obat kumur terlalu sering justru bisa mengganggu keseimbangan bakteri di dalam mulut?

Pertanyaan tersebut mencuat setelah sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara penggunaan obat kumur tertentu dengan perubahan mikrobioma mulut.

Bahkan, sejumlah pembahasan di media sosial mengaitkannya dengan risiko diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung hingga gangguan pembuluh darah.

Meski demikian, para ahli mengingatkan agar temuan tersebut tidak disimpulkan secara berlebihan. Hingga kini, penelitian yang ada belum membuktikan bahwa penggunaan obat kumur secara langsung menyebabkan diabetes atau hipertensi.

Profesor periodontik dan kedokteran mulut di University of Michigan, Purnima Kumar, mengatakan penggunaan obat kumur yang dijual bebas sesekali kemungkinan tidak menjadi persoalan bagi kebanyakan orang.

Kekhawatiran lebih banyak muncul ketika produk antiseptik digunakan berulang kali dalam jangka panjang tanpa kebutuhan medis yang jelas.

Di dalam mulut sendiri terdapat ekosistem mikroorganisme yang kompleks. Tidak semua bakteri merupakan musuh. Sebagian justru membantu menjaga kondisi mulut dan berperan dalam proses biologis yang berkaitan dengan kesehatan tubuh.

Karena itu, membunuh seluruh bakteri bukan selalu tujuan utama dalam menjaga kesehatan mulut.

Profesor madya periodontik di University of Maryland, Vivek Thumbigere-Math, membagi obat kumur secara umum menjadi dua kelompok, yakni terapeutik dan kosmetik.

Obat kumur terapeutik mengandung bahan aktif yang ditujukan untuk membantu mengatasi masalah seperti plak, penyakit gusi, bau mulut atau kerusakan gigi.

Sementara obat kumur kosmetik lebih berfungsi sementara untuk menyamarkan bau mulut dan memberikan sensasi segar tanpa memiliki bahan aktif utama untuk mengatasi penyakit mulut.

Perhatian khusus muncul pada obat kumur antiseptik yang mengandung klorheksidin. Bahan ini memang memiliki kemampuan kuat dalam mengendalikan bakteri dan digunakan dalam perawatan kondisi gigi serta gusi tertentu.

Namun, penelitian menunjukkan efeknya tidak hanya mengenai bakteri penyebab penyakit.

Dalam penelitian yang diterbitkan pada 2020, sebanyak 36 orang dewasa sehat menggunakan obat kumur plasebo dua kali sehari selama tujuh hari, kemudian menjalani periode penggunaan obat kumur yang mengandung klorheksidin dengan pola yang sama.

Hasilnya menunjukkan perubahan cukup besar pada mikrobioma saliva. Penggunaan klorheksidin juga dikaitkan dengan penurunan pH saliva, peningkatan kadar laktat dan glukosa dalam saliva, serta berkurangnya ketersediaan nitrit. Peneliti juga menemukan kecenderungan peningkatan tekanan darah sistolik.

Temuan tersebut berkaitan dengan salah satu fungsi penting bakteri mulut. Mikroorganisme tertentu membantu mengubah nitrat dari makanan menjadi nitrit yang kemudian berperan dalam pembentukan oksida nitrat. Senyawa ini membantu melemaskan pembuluh darah dan berperan dalam pengaturan tekanan darah.

Sejumlah penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa obat kumur antibakteri dapat mengganggu proses perubahan nitrat menjadi nitrit.

Dalam sebuah penelitian terhadap orang dengan hipertensi, penggunaan obat kumur antibakteri selama tiga hari dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah sistolik rata-rata sekitar 2,3 mmHg dibandingkan kontrol.

Namun, hasil penelitian tidak selalu seragam. Studi lain pada kelompok perempuan sehat, misalnya, menemukan bahwa penggunaan obat kumur klorheksidin memang mengurangi proses perubahan nitrat menjadi nitrit di mulut, tetapi tidak menyebabkan perubahan tekanan darah selama periode penelitian.

Perbedaan hasil tersebut menjadi alasan mengapa hubungan antara obat kumur, mikrobioma mulut dan kesehatan tubuh masih terus diteliti.

Selain klorheksidin, sejumlah produk komersial menggunakan bahan antiseptik lain seperti cetylpyridinium chloride, minyak esensial, yodium atau hidrogen peroksida.

Menurut periodontis Richard Nejat, belum ada bukti kuat bahwa bahan-bahan tersebut memberikan perubahan pada mikrobioma sebesar yang ditemukan pada klorheksidin.

Masalah lain yang perlu diperhatikan adalah iritasi. Obat kumur yang mengandung alkohol atau peroksida dapat menimbulkan rasa perih pada gusi, lidah, bagian dalam pipi dan jaringan lunak.

Pada sebagian orang, bahan tertentu juga dapat memicu rasa terbakar, sariawan atau pengelupasan jaringan di dalam mulut.

Karena itu, penggunaan obat kumur sebaiknya tidak sekadar mengikuti anggapan bahwa semakin sering berkumur berarti semakin sehat.

Kebutuhan setiap orang juga berbeda. Mereka yang memiliki risiko gigi berlubang, misalnya, dapat memperoleh manfaat dari obat kumur yang mengandung fluoride.

Berbeda lagi dengan orang yang mengalami mulut kering, yang dapat membutuhkan produk dengan bahan untuk membantu mempertahankan kelembapan atau menggantikan fungsi air liur.

Pasien yang untuk sementara tidak dapat menyikat gigi atau membersihkan sela-sela gigi secara normal, termasuk setelah prosedur gigi tertentu, juga dapat memperoleh manfaat dari obat kumur terapeutik sesuai anjuran dokter gigi.

Untuk penggunaan jangka panjang, obat kumur fluoride pada kondisi yang tepat dapat menjadi pilihan karena mekanismenya terutama membantu memperkuat enamel, bukan sekadar membunuh bakteri.

Sementara itu, orang dengan mulut kering, sariawan, gusi sensitif atau gigi sensitif dapat mempertimbangkan produk bebas alkohol. Penggunaan obat kumur pemutih juga sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan, terutama pada orang dengan gigi sensitif.

Pada akhirnya, obat kumur bukan pengganti menyikat gigi dan membersihkan sela-sela gigi. Fungsinya lebih tepat ditempatkan sebagai pelengkap perawatan mulut.

Jika tidak ada kebutuhan khusus, penggunaan berlebihan—terutama produk antiseptik yang kuat—tidak selalu berarti memberikan manfaat lebih besar.

Konsultasi dengan dokter gigi dapat membantu menentukan jenis obat kumur, kandungan dan frekuensi pemakaian yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

Sumber: ANTARA

Tags : obat kumur gigi