Sering Merasa Lelah? Jangan Asal Tidur Siang
Ilustrasi - (foto by Pexels)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Tidur siang kerap menjadi pilihan untuk mengembalikan energi setelah beraktivitas sejak pagi. Namun, rasa lelah tidak selalu berarti tubuh membutuhkan tidur.
Terapis tidur Jessica Fink, LCSW-S, menjelaskan bahwa lelah dan mengantuk merupakan dua kondisi yang berbeda.
Mengantuk biasanya ditandai dengan mata mulai terpejam, kepala mengangguk, tubuh terasa berat, hingga sulit mempertahankan konsentrasi.
Jika tanda-tanda tersebut muncul, tidur siang dapat membantu tubuh mengurangi rasa kantuk. Kondisi ini terutama bermanfaat bagi orang yang bekerja dengan sistem shift, penderita narkolepsi, atau mereka yang mengalami kantuk berlebihan pada siang hari.
Namun, ketika seseorang hanya merasa lelah tanpa benar-benar mengantuk, tidur siang justru belum tentu menjadi pilihan yang tepat.
Dikutip dari Real Simple, Fink menyarankan seseorang yang hanya merasa lelah untuk mencoba bangun dan bergerak.
Aktivitas ringan dapat membantu tubuh kembali bugar tanpa mengorbankan kebutuhan tidur pada malam hari.
Pasalnya, tidur siang dapat mengurangi sleep drive, yakni dorongan alami tubuh untuk tidur yang terus meningkat selama seseorang terjaga. Dorongan tersebut membantu tubuh merasa mengantuk ketika waktu tidur malam tiba.
Bagi orang yang sudah mengalami kesulitan tidur atau insomnia, tidur siang yang tidak diperlukan dapat membuat masalah tersebut semakin sulit dikendalikan.
Ketika sleep drive berkurang karena tidur pada siang hari, rasa kantuk pada malam hari bisa datang lebih lambat.
Fink menjelaskan bahwa sleep drive merupakan salah satu faktor yang berperan dalam menentukan kapan seseorang mulai mengantuk dan berapa lama tubuh membutuhkan tidur. Karena itu, waktu dan durasi tidur siang perlu diperhatikan.
Jika memang membutuhkan tidur siang, durasi singkat sekitar 20 menit dapat menjadi pilihan.
Fink menyarankan memasang alarm sekitar 30 menit untuk membantu mencegah tidur terlalu lama dan mengurangi kemungkinan terbangun dalam kondisi linglung atau sleep inertia.
Selain durasi, waktu tidur siang juga penting. Tubuh memiliki ritme sirkadian yang secara alami membuat energi menurun pada waktu tertentu.
Menurut Fink, penurunan energi tersebut umumnya terjadi sekitar tujuh hingga sembilan jam setelah seseorang bangun.
Periode awal hingga pertengahan siang dapat menjadi waktu yang lebih sesuai untuk tidur sejenak. Sebaliknya, tidur terlalu sore berpotensi membuat seseorang tidak cukup mengantuk ketika memasuki waktu tidur malam.
Karena itu, sebelum memejamkan mata pada siang hari, ada baiknya mengenali kondisi tubuh terlebih dahulu. Apakah benar-benar mengantuk atau sekadar merasa lelah?
Jika mengantuk, tidur siang singkat bisa membantu memulihkan kewaspadaan. Tetapi jika hanya kelelahan, bangun, bergerak, menghirup udara segar, atau melakukan aktivitas ringan bisa menjadi pilihan agar kualitas tidur malam tetap terjaga.
