Puasa Sah Tapi Sia-sia, Ini Penyebabnya
Ilustrasi - (foto by freepik)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Ramadan selalu disambut dengan semangat ibadah yang tinggi. Umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal, memperbaiki diri, dan berharap meraih ampunan Allah Subhanahu Wata'ala.
Namun di tengah semangat tersebut, masih ada sebagian orang yang kurang memperhatikan adab dan etika saat berpuasa, termasuk dalam menjaga ucapan. Padahal sejatinya Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi ujian untuk menjaga lisan, hati, dan perbuatan dari segala bentuk dosa.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam telah memberikan peringatan tegas tentang bahaya perkataan dusta dan perbuatan maksiat ketika menjalankan ibadah puasa. Dalam sebuah hadits dijelaskan larangan dusta saat menjalankan ibadah puasa.
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903)
Hadits ini menjadi peringatan keras bagi umat Islam agar tidak meremehkan dosa dusta, terlebih di bulan suci Ramadan.
Mengutip laman rumasyho, kata zuur dalam hadits tersebut dimaknai sebagai kebohongan atau perkataan dusta. Pada dasarnya, berdusta adalah perbuatan tercela kapan pun dilakukan. Namun tingkat keburukannya semakin besar ketika dilakukan saat menjalankan ibadah puasa.
Mayoritas ulama (jumhur) berpendapat bahwa larangan dalam hadits tersebut bersifat haram, namun tidak termasuk hal yang membatalkan puasa. Artinya, pembatal puasa tetap terbatas pada makan, minum, dan jima’ (hubungan suami istri) di siang hari Ramadan.
Meski demikian, berbohong tetap merupakan maksiat yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa.
Dalam salah satu kajian di Jakarta, Syafiq Riza Basalamah menjelaskan berbohong bukan pembatal puasa tetapi akan merugikan muslim yang melakukannya terlebih saat puasa.
“Kalau seseorang sudah memenuhi syarat sah puasa, mulai dari niat lalu menahan diri dari makan, minum dan syahwat sejak fajar hingga maghrib, maka puasanya sah dan tidak wajib diulang. Namun pahalanya bisa jadi berkurang, bahkan bisa habis," jelasnya, mengutip akun resmi Syafiq Riza Basalamah Official, Rabu (25/2).
Penjelasan tersebut menegaskan bahwa meskipun puasa tetap sah secara hukum fikih, nilai spiritualnya bisa berkurang akibat dosa yang dilakukan. Padahal, tujuan utama Ramadan adalah meraih ampunan dan ridha Allah.
Bagi siapa saja yang terlanjur melakukan kebohongan atau maksiat saat berpuasa, pintu taubat tetap terbuka lebar.
"Hendaknya ia segera bertaubat dengan sungguh-sungguh kepada Allah Azza wa Jalla. Sebab, Allah Maha Penerima Taubat bagi hamba-Nya yang kembali dan menyesali kesalahannya," lanjut Ustaz Syafiq.
Ramadan sejatinya menjadi momentum untuk membersihkan hati, menjaga lisan, dan memperbaiki diri. Jangan sampai ibadah puasa yang dijalankan seharian hanya menyisakan lapar dan dahaga tanpa pahala di sisi Allah.
