Kurang Tidur Ternyata Alarm Peringatan Stroke

Ilustrasi - (foto by Unsplash)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Pernahkah Anda merasa waktu 24 jam dalam sehari terasa kurang, lalu memutuskan untuk "mencuri" waktu tidur malam demi menonton serial favorit atau sekadar berselancar di media sosial?.

Di kalangan profesional muda, fenomena ini punya nama yang cukup populer: revenge bedtime procrastination, alias penundaan tidur sebagai bentuk balas dendam untuk menikmati waktu luang yang tersita di siang hari.

Sayangnya, kompromi atas waktu tidur ini membawa dampak yang jauh lebih serius daripada sekadar mata panda di keesokan harinya.

Sebagaimana diberitakan ANTARA yang melansir Times of India, dr. Chandana R. Gowda, seorang pakar neurologi, mengingatkan bahwa kurang tidur adalah salah satu faktor risiko masalah saraf dan jantung yang paling sering disepelekan.

"Yang sangat mengkhawatirkan adalah banyak profesional muda menormalisasi kebiasaan tidak sehat seperti menonton film larut malam, larut malam, penggunaan telepon yang lama, yang disebut sebagai 'penundaan tidur balas dendam' dan hanya tidur beberapa jam secara teratur," kata Gowda.

Salah satu ancaman nyata yang mengintai di balik kebiasaan begadang ini adalah Transient Ischemic Attack (TIA), yang lebih akrab kita kenal sebagai stroke ringan.

Bayangkan sebuah sumbatan sementara yang menghentikan aliran darah ke otak Anda. Itulah TIA. Gejalanya kerap datang tanpa permisi—mulai dari mati rasa mendadak pada satu sisi tubuh, kesulitan berbicara secara tiba-tiba, penglihatan yang mengabur, hingga rasa bingung yang muncul dalam hitungan menit.

Meski gejala-gejala ini bisa menghilang secepat kedatangannya, dunia medis menegaskan bahwa TIA bukanlah sesuatu yang boleh diabaikan. Ia adalah "alarm peringatan" dini bahwa serangan stroke yang jauh lebih besar bisa terjadi di masa depan.

Mengapa kurang tidur bisa berakibat sefatal itu? dr. Gowda menjelaskan bahwa saat tubuh terus-menerus dipaksa terjaga, sistem internal kita akan mengalami kekacauan.

Hormon stres akan melonjak, tekanan darah berfluktuasi tak menentu, peradangan di dalam tubuh meningkat, dan regulasi metabolisme menjadi buruk.

Dalam jangka panjang, kurang tidur kronis ini akan memicu reaksi berantai yang mengundang penyakit-penyakit berat lainnya seperti hipertensi, obesitas, diabetes, hingga gangguan jantung—yang semuanya merupakan tiket utama menuju serangan stroke.

Celakanya lagi, kebiasaan begadang biasanya tidak datang sendirian. Orang yang kurang tidur cenderung terjebak dalam gaya hidup tidak sehat lainnya.

Untuk mengusir kantuk di siang hari, mereka mengonsumsi kafein berlebih dan malas bergerak. Begitu malam tiba, mereka kerap mengonsumsi makanan olahan (processed food) sambil menatap layar gawai dalam waktu lama. Lingkaran setan inilah yang mempercepat kerusakan pembuluh darah dan jantung kita.

Kabar baiknya, kita belum terlambat untuk memutus lingkaran setan ini. dr. Gowda menyarankan beberapa perubahan kecil yang terukur untuk menyelamatkan kesehatan otak dan jantung kita.

Langkah awal bisa dimulai dengan berkomitmen menjaga jadwal tidur dan bangun yang konsisten setiap hari, bahkan di akhir pekan.

Selain itu, cobalah untuk menjauhkan diri dari layar gawai setidaknya 45 menit sebelum memejamkan mata. Hindari konsumsi makanan berat serta kafein menjelang malam, dan mulailah rutin berolahraga serta mengelola stres.

Terakhir, jangan lupa untuk sesekali memeriksa tekanan darah dan kadar kolesterol Anda secara berkala. Bagaimanapun, tidur nyenyak di malam hari bukanlah sebuah kemewahan, melainkan investasi terbaik untuk masa depan kesehatan Anda.