Lemas Usai Mudik? Mungkin Anda Terkena 'Post-Holiday Blues'

Suasana Hutan Pinus Malino, Minggu (22/3) - (foto by Rini)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Riuh rendah suara takbir dan hangatnya pelukan keluarga di kampung halaman perlahan berganti dengan deru mesin kota dan tumpukan pekerjaan. Bagi lebih dari 120 juta pemudik tahun 2026 ini, perjalanan pulang bukan sekadar berpindah tempat, tapi juga transisi emosional yang besar.

Pernahkah Anda merasa sangat sedih, lelah, cemas, atau sulit berkonsentrasi tepat setelah koper dibongkar? Jika iya, Anda tidak sendirian. Fenomena ini dikenal sebagai post-holiday blues.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengingatkan bahwa mudik adalah ritual sosial yang sarat makna. Namun, di balik kebahagiaannya, ada dinamika psikologis yang mengintai.

"Banyak orang mengalami gejala sedih dan kehilangan motivasi akibat perjalanan panjang, tekanan finansial, hingga ekspektasi untuk tampil sukses di depan kerabat," ujar Imran di Jakarta, Kamis (26/3), dikutip dari ANTARA.

Data tidak berbohong. Survei World Travel & Tourism Council (WTTC) mencatat bahwa 41 persen pemudik di Indonesia mengalami gejala kecemasan hingga depresi ringan setelah masa libur usai. Fenomena ini pun mendunia; di Amerika Serikat, sekitar 6,2 persen orang dewasa mengalami hal serupa setelah libur panjang.

Ternyata, transisi ini terasa lebih berat bagi kelompok tertentu:

- Para Perantau: Rasa sepi yang kontras setelah meninggalkan hangatnya kerabat di desa.

- Remaja & Mahasiswa: Tekanan akademik yang sudah menanti di depan mata.

- Perempuan: Sering kali memikul beban ganda, mulai dari urusan domestik hingga finansial keluarga selama Lebaran.

- Lansia: Risiko kesepian yang meningkat saat rumah kembali sunyi.

Kabar baiknya, post-holiday blues bukanlah sebuah kelemahan, melainkan respons manusiawi. Kemenkes membagikan beberapa kiat sederhana untuk membantu Anda "mendarat" dengan mulus di rutinitas harian:

1. Jangan Langsung Tancap Gas: Ambil waktu transisi 1-2 hari untuk menata ulang rumah dan perasaan sebelum kembali bekerja penuh.

2. Kembali ke Ritual Dasar: Fokus pada tidur teratur, makan gizi seimbang, dan olahraga ringan. Tubuh yang bugar membantu pikiran lebih stabil.

3. Digital Detox Tipis-tipis: Kurangi memantau media sosial. Melihat "kebahagiaan" orang lain yang masih berlibur sering kali memperburuk suasana hati Anda.

4. Cari Ruang Terbuka: Jalan santai di taman kota atau berkumpul dengan komunitas hobi bisa mengurangi rasa isolasi.

"Jika sedihnya berlanjut lebih dari dua minggu atau mulai mengganggu aktivitas, jangan ragu bicara pada profesional. Sekarang layanan psikolog online sudah sangat mudah diakses," pesan Imran.

Pada akhirnya, Lebaran bukan hanya tentang silaturahmi fisik, tapi juga tentang membangun ketahanan mental. Mari jadikan kenangan mudik tahun ini sebagai energi positif, bukan beban yang memperlambat langkah kita di hari-hari mendatang.