Hati-hati! Tren Adopsi Boneka Arwah Dapat Berujung Gangguan Mental

Spirit doll yang dibanderol jutaan rupiah per buah - (foto by : abc)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Boneka arwah atau yang juga disebut ‘spirit doll’ tengah menjadi topik perbincangan di media sosial beberapa hari terakhir. Boneka-boneka itu memang tampak seperti sungguhan. Mulai dari mata, bibir hingga rambut pun menyerupai manusia. Ada pula yang persis seperti bayi, bahkan untuk ukurannya pun, jika dilihat sepintas akan sulit membedakan antara bayi dan boneka. 

Spirit doll atau yang juga disebut Anabon, akronim Anak Boneka atau anak arwah. Belakangan banyak video di media sosial yang beredar, orang-orang mulai memperlakukan boneka jenis ini layaknya manusia. Jika hanya sebatas diberikan baju dan nama mungkin masih terlihat wajar. Namun dalam video yang beredar ada yang memberi boneka mereka minuman bersoda bahkan sampai memarahinya karena menganggap kaki bonekanya kotor akibat bermain di taman. Ada pula yang memasang video pengumuman mencarikan baby sitter untuk anak arwah mereka. 

Terlihat aneh memang bagi mereka yang tak melakukannya. Namun fenomena ini tak dapat dipungkiri. Sudah banyak orang yang memperlakukan spirit doll sebagai makhluk bernyawa. Tak jarang pula mereka menganggapnya sebagai anak yang harus diasuh. 

Tak tanggung-tanggung untuk memiliki sebuah spirit doll ini nominal yang harus dikeluarkan cukup banyak, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. 

Psikolog Kartika Cahyaningrum mengatakan tren mengadopsi spirit doll tersebut cenderung sudah mulai mengkhawatirkan dari sisi psikologis. Karena mereka memperlakukan spirit doll ini seperti bayi sesungguhnya yang hidup dan tumbuh besar.

“Awalnya mungkin hanya ikut-ikutan tren, namun jangan sampai karena kebiasaan dan keyakinan mereka semakin kuat terkait boneka tersebut memiliki nyawa, akhirnya membuat para pemilik ini menjadi mengalami permasalahan psikologis,” jelas Kartika kepada CELEBESMEDIA.ID, Selasa (11/1/2022). 

Psikolog yang berkerja di Biro Psikologi LPPT Widya Prasthya Makassar ini juga menjelaskan dalam dunia psikologi ada istilah yang disebut “Waham” yaitu suatu keyakinan yang dimiliki seseorang namun tidak sesuai dengan kenyataan dan tetap mereka pertahankan. Hal inilah yang patut diwaspadai karena dapat mengganggu psikologi seseorang.

“Jika tujuan dari kepemilikian spirit doll tersebut hanya sebagai koleksi atau permainan boneka seperti pada umumnya. Hal tersebut masih dapat tergolong wajar. Namun, jika kepercayaan yang mereka miliki mulai menyimpang misalnya mereka menganggap boneka tersebut bernyawa, hidup seperti bayi pada umumnya, nah hal tersebut perlu diwaspadai jangan sampai mereka nantinya menjadi sulit membedakan antara realitas dan khayalan, hal ini dalam dunia psikologi disebut Waham,”lajutnya.

Jika melihat fenomena spirit doll saat ini, Kartika menyimpulkan ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang memperlakukan spirit lebih dari mainan pada umumnya. 

1. Hanya mencoba mengikuti tren yang ada. Sehingga meningkatkan rasa percaya diri mereka di lingkungan sosial mereka.

2. Ingin mendapatkan atau meningkatkan popularitas dengan memiliki boneka tersebut. 

3. Sebagai sumber kesenangan karena dapat mengkoleksi boneka tersebut ataupun memainkan boneka tersebut.

4. Di dalam psikologi dikenal istilah nurturance need atau keinginan seseorang untuk dapat memberikan kasih sayang, merawat, dan mengasihi orang lain, namun karena hal tersebut sulit atau kurang bisa mereka dapatkan dari orang lain sehingga mereka menggunakan boneka spirit doll tersebut sebagai bentuk pelarian atau pelampiasannya. 

5. Bisa jadi juga kepemilikan boneka tersebut sebagai salah satu bentuk dari metode yang mereka lakukan untuk menurunkan kecemasan yang mereka miliki. Misalnya mereka yang belum memiliki anak, mereka yang membutuhkan berbagi afeksi atau kasih sayang namun tidak memiliki seseorang untuk berbagi kasih sayang. Boneka tersebut dijadikan sebagai dalam dunia psikologi dikenal sebagai defense mechanism atau bentuk pertahanan diri dengan memproyeksikan boneka tersebut sebagai manusia yang hidup.

Berdasarkan pengelompokan faktor penyebab ini, cara penangannya pun berbeda-beda. 

1. Kontrol diri.

“Mereka yang memiliki spirit doll harus mampu melakukan kontrol diri yang baik terkait keyakinan atau belief mereka. Mereka harus tetap sadar dan yakin bahwa spirit doll tersebut sama dengan boneka lain pada umumnya,” ucap Kartika.

2. Melepaskan.

“Jika para pemilik mulai merasa terlalu lekat atau sulit lepas atau sulit beraktivitas seperti sebelumnya karena terlalu fokus dengan bonekanya maka mungkin boneka tersebut perlu dijual, disumbangkan, atau cukup dijadikan sebagai pajangan di rumah saja,” sambung Kartika.

3. Perbaiki hubungan dengan orang lain. 

Kartika menjelaskan pemilik perlu sadar jika mereka mulai suka menyendiri atau menjauh dari lingkungan sosialnya. Jika hal tersebut mulai terjadi, maka mereka perlu untuk kembali membina hubungan dengan lingkungan sosialnya. Get contact dengan realitas sosial. 

4. Perbanyak bergaul dan berinteraksi dengan orang lain.

Tujuan bergaul dengan orang lain agar mereka tetap sadar bahwa yang mereka butuhkan bukan boneka sebagai benda mati tetapi orang lain. Karena perlu disadari bahwa pemenuhan afeksi atau pemenuhan kasih sayang tersebut hanya akan didapatkan jika kita manusia berbagi kasih sayang tersebut dengan orang lain bukan dengan benda mati. 

5. Meminta bantuan profesional

Jika sudah terlalu sulit untuk mengontrol diri, merasa tidak ada orang lain yang dapat memahami kondisi, membutuhkan tempat untuk berbagi cerita namun tidak ada orang yang dapat dipercayai maka mulailah mencari bantuan ke profesional, seperti dokter, psikiater, maupun psikolog.

“Jangan ragu untuk mencari dan meminta bantuan dari profesional terutama jika hal tersebut sangat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental kita,” tutup Kartika.