Lipa’ Sabbe, Sarung Khas Sulsel yang Punya Sejarah

Ilustrasi Lipa' Sabbe - (foto by magnific)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar — Ada satu warisan budaya dari Sulawesi Selatan yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menyimpan perjalanan panjang masyarakat Bugis. Namanya Lipa’ Sabbe, sarung sutera yang identik dengan Kabupaten Wajo, khususnya kawasan Sengkang.

Laman resmi Warisan Budaya Indonesia, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, mencatat Lipa Sabbe sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang berasal dari Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Penetapannya dilakukan pada 2016 melalui SK Nomor 244/P/2016 dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional.

Lipa’ Sabbe memiliki sejarah yang menarik. Dahulu, sarung sutera tidak sekadar menjadi pakaian, tetapi juga berkaitan dengan kedudukan sosial.

Mengutip kajian yang tersimpan di Repositori Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, penggunaan sutera pada masyarakat Sulawesi Selatan bermula dari lingkungan kerajaan. Sutera dipandang sebagai pakaian bernilai tinggi yang menjadi simbol keagungan dan kebesaran.

Dalam perkembangannya, Lipa’ Sabbe dikenal sebagai bagian dari pakaian adat masyarakat Sulawesi Selatan dan banyak diproduksi di Kabupaten Wajo. Sarung sutera Sengkang kemudian semakin dikenal sebagai salah satu identitas kerajinan masyarakat Bugis Wajo.

Keunikan Lipa' Sabbe

Lipa’ Sabbe bukan sekadar kain bermotif. Di balik sehelai sarung terdapat keterampilan menenun yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kajian dalam Repositori Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyebut pengrajin sarung di Wajo dikenal sebagai pa’tennung. Lipa’ Sabbe menjadi salah satu hasil utama kerajinan tenun masyarakat Bugis Wajo.

Keunikannya juga terlihat dari perkembangan teknik produksi. Jika dahulu proses menenun menggunakan alat tradisional, perkembangan zaman kemudian memperkenalkan alat tenun bukan mesin hingga teknologi mesin.

Meski tekniknya mengalami perkembangan, keterampilan dan nilai budaya yang melekat pada Lipa’ Sabbe tetap menjadi bagian penting dari keberadaan kain tersebut.

Salah satu sisi sejarah Lipa’ Sabbe yang menarik adalah perjalanan pusat perkembangannya.

Penelitian yang tercatat dalam Garuda Kemdikbud melalui Jurnal Imajinasi Universitas Negeri Makassar menyebut Lipa’ Sabbe mengalami perpindahan lokasi dari Tosora ke Sengkang.

Perubahan tersebut tidak hanya menyangkut tempat, tetapi juga nilai dan fungsi kain. Jika pada masa lalu Lipa’ Sabbe lebih berkaitan dengan kalangan bangsawan, penggunaannya kemudian semakin luas di tengah masyarakat.

Perjalanan tersebut turut memperkuat posisi Wajo sebagai salah satu sentra penting produksi sarung sutera di Sulawesi Selatan.

Lipa’ Sabbe juga memiliki fungsi budaya. Penelitian dalam Garuda Kemdikbud mengenai eksistensi Lipa’ Sabbe di Sengkang menjelaskan bahwa sarung sutera tersebut digunakan dalam berbagai ritual adat masyarakat Bugis.

Artinya, keberadaan Lipa’ Sabbe tidak berhenti pada fungsi sebagai pakaian. Kain ini menjadi bagian dari ekspresi budaya, tradisi, dan identitas masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan.

Kini, Lipa’ Sabbe telah melewati perubahan zaman. Namun, statusnya sebagai Warisan Budaya Takbenda menunjukkan bahwa nilai pentingnya bukan hanya terletak pada keindahan kain.

Di balik Lipa’ Sabbe terdapat pengetahuan, keterampilan, sejarah, dan identitas masyarakat yang terus diwariskan melalui tradisi menenun.