3 Kue Tradisional Khas Sulsel yang Sarat Makna

Ilustrasi - (foto by freepik)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Sulawesi Selatan memiliki beragam kuliner tradisional yang tidak hanya menggugah selera, tetapi juga menyimpan nilai budaya. Beberapa di antaranya bahkan memiliki makna filosofis dan kerap disajikan dalam acara adat maupun pernikahan.

Kue tradisional bagi masyarakat Bugis-Makassar bukan sekadar hidangan. Bahan, bentuk, hingga penyajiannya dapat menyimpan doa dan harapan tertentu.

Tiga di antaranya adalah Barongko, Sikaporo, dan Bannang-Bannang. Selain memiliki cita rasa khas, ketiganya juga dikenal dengan makna yang melekat dalam tradisi masyarakat Sulawesi Selatan.

1. Barongko, Kue Pisang Lambang Kejujuran

Barongko merupakan salah satu kue tradisional khas Bugis-Makassar yang cukup populer. Kue ini memiliki tekstur lembut dengan cita rasa manis dan gurih.

Barongko dibuat dari pisang yang sudah matang, santan, telur, gula, serta sedikit garam. Pisang terlebih dahulu dihaluskan, kemudian dicampur dengan bahan lainnya hingga menjadi adonan.

Adonan tersebut kemudian dibungkus menggunakan daun pisang dan dikukus sampai matang. Penggunaan daun pisang membuat Barongko memiliki aroma khas yang semakin kuat ketika disantap.

Selain rasanya, Barongko menyimpan filosofi tersendiri. Melansir Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan, Barongko dimaknai sebagai simbol kejujuran.

Filosofi tersebut dikaitkan dengan bagian dalam dan luar Barongko. Isi kue berupa pisang, sementara pembungkusnya juga berasal dari bagian tanaman pisang, yakni daun.

Makna tersebut menggambarkan harapan agar seseorang memiliki kesesuaian antara apa yang terlihat dari luar dan apa yang ada di dalam dirinya.

Barongko pun kerap hadir dalam berbagai momentum penting, termasuk ketika masyarakat Bugis-Makassar menjamu tamu atau menggelar acara keluarga.

2. Sikaporo, Kue Lambangkan Kelembutan Rumah Tangga

Sikaporo merupakan kue tradisional Sulawesi Selatan yang dikenal dengan tampilannya yang cantik serta teksturnya yang lembut. Kue ini umumnya dibuat berlapis dan memiliki cita rasa manis serta gurih.

Bahan yang digunakan antara lain tepung beras, santan, telur, gula, dan pewarna makanan alami maupun buatan, tergantung resep yang digunakan. Adonan kemudian dimasak hingga mendapatkan tekstur lembut sebelum disusun menjadi beberapa lapisan.

Sikaporo tidak hanya dikenal sebagai kudapan tradisional. Kue ini juga memiliki kaitan dengan tradisi pernikahan masyarakat Bugis-Makassar.

Mengutip sumber budaya Indonesia, Sikaporo memiliki makna yang berkaitan dengan kelembutan dan kesederhanaan dalam kehidupan rumah tangga.

Teksturnya yang lembut menjadi salah satu simbol yang kemudian dikaitkan dengan harapan agar pasangan yang menikah dapat menjalani kehidupan bersama dengan penuh kasih sayang, kelembutan, dan sikap saling menjaga.

Karena itu, Sikaporo dapat ditemukan dalam berbagai rangkaian acara adat, khususnya momentum yang berkaitan dengan perkawinan.

3. Bannang-Bannang, Kue Manis Bermakna Ikatan

Bannang-Bannang merupakan kue tradisional khas Sulawesi Selatan yang memiliki bentuk unik. Adonan kue dibuat memanjang dan saling melilit hingga menyerupai benang yang terjalin.

Bahan dasarnya relatif sederhana, yakni tepung beras atau tepung terigu, gula, telur, dan air, dengan resep yang dapat berbeda sesuai daerah maupun pembuatnya. Adonan kemudian dibentuk memanjang, digoreng hingga renyah, lalu biasanya dilapisi atau dicampur dengan larutan gula sehingga menghasilkan rasa manis yang khas.

Bentuknya yang saling melilit menjadi bagian penting dari filosofi kue ini.

Mengutip pemberitaan RRI Makassar, Bannang-Bannang atau Nennu-nennu dalam masyarakat Bugis memiliki makna sebagai simbol hubungan yang saling terkait, kekekalan, ketidakputusasaan, dan persatuan dua keluarga.

Karena makna tersebut, Bannang-Bannang kerap dikaitkan dengan tradisi pernikahan. Kue ini menjadi bagian dari simbol dan doa agar hubungan pasangan yang menikah tetap erat serta hubungan antara kedua keluarga dapat terus terjalin.

Barongko, Sikaporo, dan Bannang-Bannang menunjukkan bagaimana makanan tradisional Sulawesi Selatan memiliki hubungan erat dengan budaya masyarakatnya.

Barongko membawa pesan tentang kejujuran, Sikaporo menggambarkan harapan akan kelembutan dan kesederhanaan dalam rumah tangga, sedangkan Bannang-Bannang menyimpan simbol ikatan, persatuan, dan hubungan yang langgeng.

Di balik bahan-bahan sederhana yang digunakan, terdapat nilai budaya yang membuat ketiga kue tersebut lebih dari sekadar makanan.