Yusuf Dg Ngawing, Kepala Kampung di Balik Nama Jalan Makassar
Jalan Yusuf Dg. Ngawing - (int)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Bagi pengendara yang melintas di sisi selatan kampus Universitas Negeri Makassar di Gunung Sari, nama Jalan Yusuf Daeng Ngawing mungkin hanya penunjuk arah.
Padahal di balik nama itu ada sosok kepala kampung yang menolak tunduk pada penjajah.
Yusuf Daeng Ngawing dikenal sebagai kepala Kampung Mapala sekaligus pejuang yang menentang penjajahan Belanda dan Jepang.
Dua kekuasaan asing itu silih berganti menguasai Makassar, dari kolonialisme Belanda hingga pendudukan Jepang pada 1942.
Pada masa itu, kepala kampung menjadi penghubung langsung antara penguasa dan warga, sehingga sikap menentang berisiko besar.
Ia menikah dengan Yalus Daeng Te'ne. Dari pasangan ini lahir Abdullah Daeng Sirua pada 1922 di Kampung Tidung, Makassar.
Semangat sang ayah menurun kepada anaknya. Abdullah mewarisi tekad melawan penjajah dari ayahnya, gigih menghadapi Belanda, dan nyaris ditembak mati.
Sebuah tulisan sejarah lokal juga menyebut Belanda pernah mengikat jari Daeng Sirua bersama jari ayahnya, lalu menyeret mereka.
Nama Abdullah kini lebih dulu dikenal warga. Jalan Abdullah Daeng Sirua, atau Abdesir, diabadikan sejak 1980 atas inisiatif masyarakat di kawasan Masale dan Tamamaung.
Nama sang ayah menyusul menjadi nama jalan tersendiri, dan tulisan tentang penyingkatan nama jalan di Makassar mencatat nama itu belum memiliki singkatan.
Kedua tokoh ini beristirahat berdekatan. Makam Abdullah, yang wafat pada 1979 karena sakit, berada di sekitar Kampung Tidung, berdampingan dengan makam istri dan anak semata wayangnya, serta makam ayahnya, Yusuf Daeng Ngawing.
Pemberian nama jalan di Makassar tidak sembarangan. Satu buku mencatat 70 nama tokoh yang diabadikan sebagai nama jalan, mulai dari tokoh lokal, nasional, ulama, hingga tokoh legenda. Yusuf Daeng Ngawing termasuk dalam daftar itu.
Jalannya pun berada di kawasan yang bertetangga dengan jalan bernama tokoh daerah lain, seperti Jalan AP Pettarani, Hertasning, dan Sultan Alauddin.
Di kota yang dulu sempat bernama Ujung Pandang dan baru dikembalikan ke nama Makassar pada 1999, nama jalan menjadi arsip yang dilintasi setiap hari.
Bagi para pegiat sejarah lokal, mengenal sosok di baliknya berarti menjaga ingatan agar tidak hilang bersama waktu.
