Jejak Pembebas Wajo di Jalan Lamadukelleng

La Maddukelleng - (foto by Wikipedia)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Bagi warga Makassar, Jalan Lamadukelleng mungkin hanya satu dari sekian banyak ruas jalan yang dilewati setiap hari.

Jalan ini membentang di antara Jalan H. Bau dan Jalan Arief Rate, dan dikenal sebagai kawasan yang hidup, terutama karena deretan tempat makannya.

Tapi nama yang tersemat di papan jalan itu menyimpan kisah pelayaran, perang, dan diplomasi yang jauh lebih besar daripada keramaian di sekitarnya.

Nama jalan itu merujuk pada La Maddukkelleng, bangsawan Kerajaan Wajo yang lahir pada tahun 1700. 

Sumber yang beredar menyebut tempat kelahirannya di Belawa, meski ada pula yang mencatatnya di Peneki.

Ia dikenang sebagai Petta Pamaradekangi Wajona To Wajoe, "pembebas Wajo". Julukan itu lahir dari perjuangannya melepaskan rakyat Wajo dari bayang-bayang Kerajaan Bone dan campur tangan VOC.

Perlawanan itu tidak ditempuh lewat jalan mulus. Ketika armada VOC dan pasukan Bone memburunya, La Maddukkelleng memimpin armadanya menyusuri Mandar, singgah di Pulau Sabutung, lalu berlayar ke Makassar.

Di perairan sekitar Pulau Lae Lae, ia berhasil memukul mundur pasukan Belanda. Dari sana ia masuk lewat Doping dan tiba di Sengkang pada 24 Mei 1736 untuk merebut kembali posisinya sebagai Arung Matowa, penguasa tertinggi Wajo.

Pengaruhnya tak berhenti di Sulawesi Selatan. Seperti banyak bangsawan dan pelaut Bugis di zamannya, La Maddukkelleng menjelajah jauh.

Sekitar 1737, ia tercatat menjadi Sultan Paser di Kalimantan Timur. Ia juga merajut aliansi lewat pernikahan, salah satunya dengan menikahkan putrinya dengan putra mahkota Kutai.

Jejak petualangannya disebut sampai ke Semenanjung Malaka, hingga wilayah Perak, tempat ia dikenal sebagai pejuang yang membela kehormatan dengan badik sekaligus menjalin persahabatan lewat diplomasi.

Di Makassar, jalan yang memakai namanya juga menyimpan lapisan sejarah lain. Di Jalan Lamadukelleng No. 7, yang dahulu bernama Jl. Bassi Weg, berdiri sebuah gereja Katolik yang dibangun pada 1928 di masa kolonial Belanda dan masih bertahan hingga kini.

Tak jauh dari sana ada bangunan tempat misionaris Katolik Roma pernah membuka sekolah, yang turut mewarnai sejarah pendidikan di kota ini.

Maka jalan ini menyimpan dua cerita sekaligus. Namanya mengenang seorang pahlawan Bugis yang melawan kolonialisme, sementara bangunan-bangunan di sepanjangnya menjadi saksi berjumpanya beragam budaya dan keyakinan di Makassar.

Pada 6 November 1998, negara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada La Maddukkelleng lewat Keputusan Presiden Nomor 109/TK/1998.

Gelar itu mengakui perlawanannya terhadap kolonialisme sekaligus perannya membangkitkan semangat dan identitas masyarakat Bugis.

Kini, di tengah deru kendaraan dan aroma makanan dari warung-warung di sepanjang jalan, memang sulit membayangkan badai sejarah abad ke-18 yang pernah ia lalui.

Namun setiap kali orang menyebut alamat "Jalan Lamadukelleng", nama sang pahlawan ikut disebut, terukir di peta kota yang ia kenal sebagai tempat singgah dalam pelayarannya.