Petta Punggawa, Panglima Bone di Balik Nama Jalan Makassar
Plang Jalan Petta Punggawa - (int)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Pagi di Jalan Petta Punggawa selalu terasa sama. Motor berseliweran, pedagang membuka dagangan, dan warga lalu-lalang di antara rumah dan pertokoan.
Papan nama jalan berdiri di tempatnya, nyaris tak pernah dilirik. Padahal di balik dua kata itu tersimpan kisah seorang pangeran yang memilih berdiri paling depan ketika negerinya terancam.
Ia dikenal sebagai Petta Ponggawae, panglima perang Kerajaan Bone. Nama kecilnya Baso Pagilingi Abdul Hamid, putra Raja Bone ke-30, La Pawawoi Karaeng Sigeri, sekaligus putra mahkota kerajaan.
Cerita ini bermula di penghujung abad ke-19. Bone saat itu masih berdaulat, sementara Belanda terus memperluas pengaruhnya di Sulawesi Selatan.
Baso Pagilingi tumbuh di lingkungan istana Bugis, tempat kehormatan, keberanian, dan tanggung jawab terhadap negeri dipegang sebagai nilai utama.
Sebagai anak raja, hidupnya tak berhenti pada kemegahan istana. Ia menapaki berbagai jabatan dalam struktur pemerintahan kerajaan, dari Arung Lita, lalu Arung Macege, hingga akhirnya diangkat menjadi Petta Ponggawae, panglima besar yang memimpin seluruh pasukan Bone.
Dari gelar inilah nama Petta Punggawa melekat dalam ingatan masyarakat Bugis.
Perannya kian berat ketika hubungan Bone dan pemerintah kolonial memburuk. Perselisihan soal kekuasaan dan kewajiban kerajaan terhadap Belanda lambat laun berubah menjadi konflik terbuka.
Bagi Bone, ini bukan sekadar urusan politik. Yang dipertaruhkan adalah harga diri kerajaan dan hak menentukan nasib sendiri.
Puncaknya datang pada 1905. Belanda mengirim ekspedisi militer untuk menundukkan Bone, peristiwa yang dalam ingatan sejarah lokal disebut Rumpa'na Bone.
Petta Punggawa memimpin pasukan menghadapi lawan yang bersenjata lebih modern. Perlawanan itu timpang sejak awal, tetapi pasukan Bone tetap bertahan menghadapi tekanan yang hendak mematahkan penolakan mereka terhadap kekuasaan kolonial.
Menurut catatan sejumlah sumber lokal, Petta Punggawa gugur terkena tembakan di kawasan Pegunungan Awo pada 1905.
Kepergiannya menjadi salah satu babak penting dalam kisah runtuhnya pertahanan Bone, dan sejak itu kisahnya hidup dalam ingatan masyarakat sebagai bagian dari sejarah melawan penjajahan.
Warisan Petta Punggawa tidak berhenti pada cerita pertempuran atau nama sebuah jalan. Sosoknya juga lekat dengan Bola Soba, rumah tradisional Bugis yang dikenal sebagai Saoraja Petta Ponggawae.
Bangunan ini mulanya istana Raja Bone La Pawawoi Karaeng Sigeri yang didirikan sekitar 1890, kemudian ditempati Baso Pagilingi Abdul Hamid. Fungsinya berubah seiring waktu, hingga kini dikenal sebagai salah satu penanda sejarah Kerajaan Bone.
Lewat Bola Soba, kita melihat sisi lain sang panglima. Jejaknya ada pula di kehidupan istana dan warisan budaya Bugis.
Kini, namanya hidup di tengah keseharian warga Makassar. Jalan Petta Punggawa membentang melintasi Kecamatan Bontoala dan Tallo, termasuk Kelurahan Timungan Lompoa dan Kalukuang.
Di sepanjang ruas itu, hari berjalan seperti biasa. Kendaraan lewat, usaha dijalankan, kota terus bergerak. Mungkin tak banyak yang tahu bahwa nama di papan jalan itu milik seorang panglima dari Kerajaan Bone.
Padahal, nama jalan bisa menjadi pengingat sejarah yang paling dekat. Ia bukan sekadar penunjuk arah, melainkan jembatan antara kota hari ini dan orang-orang yang pernah hidup di masa lalu.
Di tengah Makassar yang kian modern, nama Petta Punggawa bertahan. Maka siapa pun yang melintasi jalan itu sesungguhnya sedang melewati ruang yang menyimpan sepenggal sejarah perjuangan dari tanah Bugis.
