Jalan Lasinrang, Kisah Panglima yang Menyerah demi Keluarga

Lasinrang - (int)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Sebut Jalan Lasinrang, kebanyakan warga Makassar langsung membayangkan jalangkote dan lumpia yang mengepul di etalase. 

Sejarah jalan ini memang belum banyak diketahui, dan masyarakat lebih akrab dengan kulinernya. Padahal nama itu milik seorang pejuang Bugis dari Pinrang yang membuat pemerintah kolonial Belanda kewalahan lebih dari seabad silam.

Lasinrang adalah pejuang asal Pinrang yang memimpin para pemuda Addatuang Sawitto melawan Belanda.

Nama ini juga punya pengaruh pada dunia kuliner. Jalangkote Lasinrang mengambil namanya dari jalan tempat warungnya pertama berdiri, sehingga nama sang pahlawan ikut melekat pada salah satu ikon jajanan Makassar.

Pada 2022, kisah nama-nama jalan seperti ini ditampilkan Pemerintah Kota Makassar dalam ajang Makassar F8, dengan tujuan agar warga memahami bahwa setiap nama jalan menyimpan sejarah dan menjadi bentuk penghargaan bagi para pejuang.

Dikutip dari berbagai sumber, ejaan yang tepat adalah La Sinrang, bukan Lasinrang. Ia lahir dari keluarga bangsawan Sawitto pada 1856, putra La Tamma, Addatuang Sawitto, dan I Raima.

Tempat kelahirannya adalah Dolangan, kini bagian dari Kecamatan Mattiro Bulu, Kabupaten Pinrang.

Julukannya, Bakka Lolona Sawitto atau pemuda pemberani dari Sawitto, konon berawal dari ayam aduan langka miliknya dan kian terkenal setelah ia memimpin perlawanan.

Panggilan perang datang sekitar 1903. Di masa itu, campur tangan Hindia Belanda dalam persoalan Jampue memicu konflik dengan kerajaan-kerajaan Ajatappareng, terutama Sawitto, Suppa, dan Alitta.

Saat serangan Belanda kian hebat, sang ayah memanggil La Sinrang pulang dan mengangkatnya sebagai panglima perang.

Selama sekitar 1905 hingga 1907, ia dan Pasukan Passiuno membuat Belanda kewalahan. Ia bersenjata tombak dan keris.

Belanda juga menyebarkan maklumat pencarian dirinya, hidup atau mati, serta menjalankan politik adu domba di kalangan bangsawan dan komandan pasukannya.

Perlawanan itu akhirnya patah bukan oleh kekalahan di medan tempur. Setelah berbagai cara gagal, Belanda menangkap Addatuang Sawitto, La Tamma, yang sudah berusia lanjut, pada 25 Juli 1906.

Penahanan sang ayah dan istrinya, I Makkanyuma, membuat La Sinrang menyerah. Ia kemudian diasingkan ke Banyumas dan dipulangkan dalam keadaan sakit-sakitan.

Ia wafat pada 29 Oktober 1938, dan makamnya berada di Kelurahan Laleng Bata, Kecamatan Paleteang, Pinrang.

Di kampung halamannya, penghormatan itu terasa di mana-mana. Warga Pinrang mengabadikan namanya pada jalan, gedung olahraga, dan rumah sakit, bahkan patungnya berdiri di pusat kota.

Di Makassar, sekitar 185 kilometer dari sana, namanya hidup lewat papan jalan yang setiap hari dilintasi ribuan orang.

Maka lain kali antre membeli jalangkote di Jalan Lasinrang, ada baiknya sejenak mengingat sosok di balik nama itu, seorang panglima muda yang menyerah demi keselamatan keluarganya.