Sang Perdana Menteri di Balik Jalan Karunrung
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Bagi warga Makassar, Jalan Karunrung mungkin hanya penanda arah yang dilewati setiap hari, di antara deru kendaraan, deretan ruko, dan permukiman padat.
Di balik nama itu tersimpan kisah seorang negarawan sekaligus panglima Kerajaan Gowa yang hidup di masa paling bergejolak dalam sejarah Sulawesi Selatan.
Nama yang dipakai adalah Karaeng Karunrung. "Karaeng" adalah gelar kebangsawanan Makassar, sedangkan "Karunrung" merujuk pada wilayah yang menjadi daerah kekuasaan tokoh ini.
Menurut sejarawan, ia adalah putra Karaeng Pattingalloang, Tumabicara Butta atau perdana menteri Gowa yang dikenal luas sebagai cendekiawan penguasa banyak bahasa dan gemar mengoleksi globe serta buku dari Eropa.
Setelah ayahnya wafat pada 1654, Karunrung menduduki jabatan strategis itu.
Kala itu Gowa berada di puncak kejayaan sebagai kerajaan maritim yang menjadi pusat perdagangan rempah di kawasan timur Nusantara, di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin, raja yang kelak dijuluki "Ayam Jantan dari Timur".
Karunrung dikenal sebagai figur keras yang menolak keras dominasi Kompeni (VOC) atas perdagangan di Makassar.
Dalam Perang Makassar (1666–1669), ia berada di garis depan mempertahankan kerajaan dari gempuran VOC yang bersekutu dengan Arung Palakka dari Bone beserta pasukan Bugis.
Ia tercatat berperan penting dalam mengatur pertahanan, termasuk di Benteng Somba Opu, pusat kekuasaan Gowa yang akhirnya jatuh pada 1669.
Perjanjian Bongaya (1667) yang memaksa Gowa menyerahkan banyak kedaulatannya menjadi simbol kekalahan yang tidak pernah sepenuhnya ia terima.
Setelah Somba Opu jatuh, Karunrung tidak menyerah. Bersama sejumlah bangsawan dan pengikut yang menolak tunduk, ia meninggalkan tanah kelahirannya dan merantau ke Jawa.
Di sana, ia diketahui bergabung dengan perlawanan Trunajaya terhadap Mataram dan VOC, bersama Karaeng Galesong, sesama pejuang asal Makassar.
Sejumlah sumber menyebut ia gugur atau wafat dalam pelarian di Jawa pada akhir 1670-an, jauh dari tanah yang dibelanya.
Sosoknya menyimpan banyak pelajaran. Ia mewakili generasi pemimpin yang memadukan kecerdasan diplomasi warisan sang ayah dengan keberanian di medan perang, serta memilih perlawanan ketimbang kompromi.
Penamaan jalan dengan namanya menjadi cara kota ini mengenang tokoh yang memilih berdiri tegak di tengah runtuhnya kerajaannya.
Kini, saat kendaraan melintas di Jalan Karunrung, nama yang tertera di papan jalan itu mengingatkan bahwa Makassar tumbuh di atas sejarah panjang perjuangan mempertahankan harga diri.
