Botlem, Nama Jalan Makassar yang Berakar dari Sejarah Gowa

Plang Jalan Bonto Lempangan - (int)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Pagi hari di Jalan Bonto Lempangan selalu dimulai dengan cara yang sama. Kendaraan merayap bergantian, pekerja kantoran bergegas, dan pemilik usaha membuka pintu tokonya.

Bagi kebanyakan orang Makassar, ruas jalan di Kecamatan Ujung Pandang ini adalah jalur harian, tempat yang dilewati tanpa banyak berpikir.

Padahal, nama yang tertera di papan jalan itu menyimpan cerita yang jauh lebih tua dari hiruk-pikuk di bawahnya.

Warga lebih akrab menyebutnya Botolempangan, atau lebih singkat lagi, Botlem. Menurut catatan sejarah lokal, Botolempangan dikenal sebagai penasihat Sultan Hasanuddin, raja Gowa yang memerintah pada 1653 hingga 1669.

Dari situ, namanya terhubung dengan masa ketika Gowa menjadi salah satu kekuatan penting di kawasan timur Nusantara.

Pada abad ke-17 itu, Gowa adalah simpul perdagangan dan pelayaran. Letaknya yang strategis membuat kerajaan ini berperan besar dalam hubungan antardaerah.

Posisi itu pula yang membuatnya berhadapan dengan VOC, kongsi dagang Belanda yang berambisi menguasai jalur rempah.

Di tengah persaingan kekuasaan seperti itu, orang-orang di lingkaran istana ikut menentukan arah kebijakan dan cara kerajaan menghadapi tekanan.

Sultan Hasanuddin sendiri dikenang sebagai penguasa yang melawan ekspansi VOC. Perang Makassar berlangsung pada 1666 hingga 1669.

Pada 18 November 1667, Perjanjian Bongaya ditandatangani dan memberi VOC keuntungan besar, tetapi Sultan Hasanuddin tidak menaatinya sehingga pertempuran kembali pecah.

Peristiwa ini menjadi salah satu bab penting dalam hubungan kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan dengan kekuatan kolonial.

Meski begitu, sosok Botolempangan sendiri masih diliputi banyak pertanyaan. Tahun kelahirannya, latar belakang keluarganya, hingga akhir hayatnya belum ditemukan dalam sumber yang gamblang.

Seiring waktu, nama panjang itu menyusut dalam percakapan sehari-hari. "Botlem" terasa lebih ringkas ketika dipakai untuk menyebut arah atau janji temu.

Kebiasaan ini lazim di Makassar. Jalan Abdullah Daeng Sirua dikenal sebagai Abdesir, sementara Jalan Kadjolalido kerap disebut Kajol. Warga memendekkan nama demi kepraktisan, tanpa menghilangkan nama aslinya.

Secara administratif, Jalan Bonto Lempangan tercatat dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar sebagai jalan kolektor sepanjang sekitar 884 meter.

Ruas ini berada di sekitar kawasan Lapangan Karebosi dan dipenuhi perkantoran, hotel, serta berbagai tempat usaha.

Di sela kesibukan itu, jarang ada yang berhenti sejenak untuk bertanya dari mana nama jalan itu berasal. Padahal nama jalan bisa menjadi pintu masuk untuk memahami sebuah kota.

Sejarah Makassar tidak hanya tersimpan di benteng, museum, dan buku-buku tua. Sebagian jejaknya ada di papan nama jalan yang dilihat orang saat berangkat kerja, mengunjungi kerabat, atau sekadar lewat.

Selama nama Botolempangan terus disebut, benang antara masa lalu dan masa kini tetap terjaga. Jalan ini pun lebih dari sekadar penghubung antarlokasi. Ia pengingat bahwa di balik nama sebuah jalan ada sejarah lokal yang layak terus ditelusuri.