Jalan Kajoalalido, Jejak Cendekiawan Bone di Titik Nol Makassar
Jalan Kajoalalido, Makassar - (int)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di tengah hiruk-pikuk pusat Kota Makassar, ada satu nama jalan yang mungkin terdengar biasa bagi pengendara, tetapi menyimpan jejak panjang sejarah Sulawesi Selatan.
Jalan Kajoalalido bukan sekadar penunjuk arah, melainkan penghormatan kepada seorang pemikir dan negarawan dari Kerajaan Bone yakni La Mellong, yang lebih dikenal dengan gelar Kajao Laliddong.
Pemerintah Kota Makassar sendiri menempatkan sejarah nama jalan sebagai bagian dari ingatan kota.
Dalam publikasi resminya, Pemkot Makassar menyebut nama-nama jalan tidak hanya berfungsi sebagai alamat, tetapi juga menjadi simbol penghargaan terhadap tokoh dan perjuangan yang memiliki arti bagi sejarah daerah.
Nama Kajoalalido merujuk kepada Kajao Laliddong, tokoh yang hidup pada sekitar abad ke-16 dan dikenal sebagai penasihat raja sekaligus cendekiawan Kerajaan Bone.
Kajian sejarah Universitas Negeri Makassar mencatat perannya dalam perkembangan pemikiran pemerintahan, hukum, sosial, budaya, dan pendidikan di Bone.
Kajao Laliddong memiliki posisi penting dalam pemerintahan Kerajaan Bone. Ia menjadi penasihat bagi Raja Bone VI La Uliyo Bote’E dan Raja Bone VII La Tenri Rawe BongkangngE pada abad ke-16.
Pemikirannya turut membentuk dasar tata pemerintahan kerajaan. Salah satu gagasan penting yang dikaitkan dengannya adalah pangngadereng, sistem norma yang mengatur kehidupan masyarakat Bugis.
Konsep tersebut mencakup ade’ atau adat, rapang yang berkaitan dengan keteladanan dan aturan, bicara sebagai sistem hukum, serta wari’ yang mengatur tata hubungan sosial.
Karena itu, Kajao Laliddong tidak hanya dikenang sebagai orang yang berada di lingkungan istana. Ia dikenal sebagai sosok yang menggunakan pengetahuan, pertimbangan dan diplomasi untuk membantu kerajaan menghadapi persoalan pemerintahan maupun hubungan politik dengan kerajaan lain.
Dalam catatan sejarah, perannya juga dikaitkan dengan lahirnya kesepakatan Tellumpoccoe, sebuah ikrar persatuan tiga kerajaan Bugis—Bone, Soppeng dan Wajo—untuk saling membantu dalam menghadapi persoalan pertahanan dan pembangunan kerajaan.
Warisan Kajao Laliddong tidak berhenti pada sistem pemerintahan. Pemikirannya juga meninggalkan nilai-nilai yang hingga kini masih sering dibicarakan dalam konteks budaya Bugis.
Empat nilai utama yang menonjol dalam pemikirannya, yakni lempu atau kejujuran, acca atau kecakapan dan kepandaian, keberanian, serta getteng atau keteguhan.
Nilai-nilai tersebut dipandang sebagai bagian dari pandangan hidup yang dapat membentuk cara seseorang berpikir dan bertindak dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara.
Pemikiran itu juga menunjukkan bahwa dalam tradisi politik Bugis, seorang pemimpin tidak hanya dituntut memiliki kekuasaan.
Ia harus memiliki kecakapan berpikir, keberanian mengambil keputusan, keteguhan memegang prinsip, sekaligus kejujuran dalam menjalankan amanah.
Nilai-nilai tersebut membuat sosok Kajao Laliddong tetap menarik dibicarakan berabad-abad setelah masa hidupnya.
Kini, nama Kajao Laliddong hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana, sebuah ruas jalan di pusat Kota, tepatnya di kawasan titik nol Makassar.
Jalan Kajoalalido berada di kawasan pusat kota dan menjadi bagian dari jaringan jalan yang menghubungkan sejumlah kawasan penting.
Dokumen riset Pemkot Makassar juga menunjukkan bahwa Kajoalalido telah menjadi bagian dari kawasan bersejarah kota sejak masa kolonial.
Dalam daftar bangunan bersejarah, tercatat keberadaan Hotel Empress di Jalan Kajaolalido pada 1930 dan Sekolah Frateran di ruas yang sama pada 1940.
Artinya, jalan tersebut tidak hanya menyimpan sejarah melalui namanya. Lingkungan di sekitarnya juga menjadi saksi perkembangan Makassar sebagai kota modern sejak masa kolonial.
Hal ini tidak terlepas dari perjalanan Makassar sendiri. Pemkot Makassar mencatat kota ini berkembang dari kawasan bandar di sekitar muara Sungai Tallo menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan yang semakin besar.
Pada awal abad ke-20, Makassar bahkan berkembang menjadi pusat pemerintahan kolonial untuk kawasan Indonesia Timur.
Di tengah perubahan wajah kota, nama Kajoalalido menjadi semacam pengingat bahwa sejarah Sulawesi Selatan tidak hanya dibangun oleh raja, panglima atau tokoh perjuangan bersenjata.
Ada pula orang-orang yang meninggalkan jejak melalui pikiran, nasihat, hukum dan diplomasi.
Kajao Laliddong adalah salah satunya. Gagasannya lahir dari lingkungan Kerajaan Bone berabad-abad silam, tetapi namanya kini melekat pada ruang publik di Kota Makassar.
Setiap kendaraan yang melintas di Jalan Kajoalalido mungkin hanya melihat sebuah ruas jalan di tengah kesibukan kota.
Namun di balik nama itu terdapat kisah seorang cendekiawan Bugis yang pernah ikut menentukan arah pemerintahan dan hubungan politik kerajaan di Sulawesi Selatan.
Pada akhirnya, sebuah nama jalan dapat menjadi lebih dari sekadar alamat. Ia bisa menjadi cara sebuah kota menyimpan ingatan—agar tokoh, gagasan dan nilai dari masa lalu tidak sepenuhnya hilang ditelan perubahan zaman.
