Bau Massepe, Panglima Muda yang Gugur di Usia 29 Tahun
Plang Jalan Bau Massepe - (foto by Google Maps)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di tengah hiruk-pikuk Makassar,
Jalan Bau Massepe mungkin hanya terdengar sebagai penunjuk arah. Orang
menyebutnya saat memesan ojek daring, mengirim paket, atau menjanjikan titik
temu dengan kawan. Jarang ada yang bertanya siapa pemilik nama itu.
Dia adalah Andi Abdullah Bau Massepe, bangsawan Bugis yang
gugur pada usia sekitar 29 tahun setelah ikut memimpin perlawanan terhadap
Belanda di Sulawesi Selatan. Namanya juga dipakai sebagai nama jalan di
sejumlah daerah lain, termasuk Parepare, kota yang menjadi pusat gerak
perjuangannya.
Bau Massepe lahir pada 1918. Menurut buku profilnya, Andi
Abdullah Bau Massepe: Mahkota Bagi Republik (2020), nama kecilnya La
Temmassonge Abdullah.
Ayahnya, Andi Mappanyukki, kelak menjadi Raja Bone ke-32 dan
juga bergelar Pahlawan Nasional. Ibunya adalah Andi Besse Arung Bulo, yang
wafat ketika ia baru berusia lima tahun.
Ia tumbuh di lingkungan kerajaan, tetapi bukan dengan
pendidikan ala istana saja. Ia sempat bersekolah di sekolah rakyat, lalu pindah
ke sekolah Belanda HIS dan tamat pada 1931, tahun yang sama ketika ayahnya naik
takhta di Bone.
Masa kecil di antara dua dunia, tradisi bangsawan Bugis dan
pendidikan kolonial, kelak membentuk caranya memandang tanah airnya.
Pada masa pendudukan Jepang, ia aktif di organisasi pemuda
dan pergerakan. Pada 1944 ia diangkat sebagai Bunken Kanrikan, pejabat
pemerintahan wilayah di bawah administrasi Jepang. Pengalaman memimpin dan
berorganisasi itu menjadi bekal ketika zaman berganti dengan cepat.
Proklamasi 17 Agustus 1945 dibacakan di Jakarta, tetapi
kabarnya tiba di Sulawesi dengan tertatih-tatih, dan tidak semua orang percaya
bahwa kemerdekaan itu nyata. Belanda, lewat NICA, bersiap kembali berkuasa.
Bau Massepe memilih berpihak pada Republik. Di Parepare, ia
menggerakkan pemuda dan masyarakat. Organisasi SUDARA (Sumber Darah Rakyat)
yang ia pimpin diarahkan menjadi wadah perjuangan.
Pada 8 September 1945, ia mengorganisasi pertemuan tokoh
masyarakat dan pemuda yang melahirkan Penunjang Republik Indonesia (PRI) dan
Pemuda Nasional Indonesia (PNI) cabang Parepare.
Empat hari kemudian, 12 September 1945, bendera Merah Putih
dikibarkan di Lapangan Labukkang. Ribuan warga disebut hadir. Bagi sebuah kota
yang jauh dari Jakarta, itu adalah pernyataan sikap yang lantang.
Semangat itu tak berhenti pada pengibaran bendera. Seiring
meningkatnya tekanan Belanda, Bau Massepe membangun jaringan perlawanan yang
melibatkan pemuda dan laskar rakyat.
Sepanjang 1946, pasukannya terlibat sejumlah pertempuran dan
penyerangan terhadap pos-pos Belanda di sekitar Parepare dan Pinrang. Ia
memadukan pengaruhnya sebagai bangsawan dengan kemampuan menggalang rakyat dari
berbagai kalangan.
Namun situasi kian genting. Pada 17 Oktober 1946, Bau
Massepe ditangkap. Pasukan khusus pimpinan Raymond Westerling, yang kala itu
menjalankan operasi keras di Sulawesi Selatan, membawanya ke Makassar untuk
diperiksa.
Ironisnya, di tengah penahanan itu, perannya justru
dikukuhkan. Pada 20 Januari 1947, Konferensi Pacekke yang dipimpin Mayor Andi
Mattalatta meresmikan Tentara Republik Indonesia (TRI) Divisi Hasanuddin, dan
Bau Massepe ditetapkan sebagai panglimanya. Ia memegang jabatan itu dari balik
tahanan.
Pada 15 Januari 1947, ia dipindahkan ke penjara di Pinrang.
Beberapa hari kemudian ia dibawa untuk menyaksikan eksekusi pasukannya sendiri.
Pada 2 Februari 1947, Bau Massepe wafat, dalam peristiwa
yang disebut sumber-sumber sejarah dengan nada pilu. Ia dikaitkan dengan
operasi pasukan Westerling, yang di Sulawesi Selatan meninggalkan korban dalam
jumlah sangat besar. Usianya sekitar 29 tahun.
Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 7
November 2005 melalui Keputusan Presiden Nomor 082/TK/2005.
Penghormatan lain hadir dalam bentuk monumen patung di
Parepare, yang diresmikan pada Maret 2015 agar generasi muda mengenal kisahnya.
Ayahnya, Andi Mappanyukki, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2004,
setahun sebelum putranya.
Kini, tidak ada lagi riuh rapat pemuda atau derap pasukan di
jalan yang menyandang namanya. Yang tersisa hanyalah nama di papan jalan,
disebut berulang kali oleh orang-orang yang mungkin belum tahu siapa dia.
Padahal, sebuah jalan tidak hanya menghubungkan satu tempat
ke tempat lain. Pada nama yang disandangnya, ada seorang pemuda bangsawan yang
memilih berdiri bersama rakyat dan membayarnya dengan nyawa.
Lain kali melintasi Jalan Bau Massepe, mungkin kita bisa
melaju sedikit lebih pelan, sambil mengingat siapa yang dikenang di sana.
