Jalan Ranggong dan Kisah Pahlawan dari Takalar
Ranggong Daeng Romo - (int)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Pukul makan siang di Jalan Ranggong, aroma coto dan gado-gado menguar dari deretan warung yang tak pernah sepi pengunjung. Bagi kebanyakan warga Makassar, nama jalan ini lekat dengan urusan perut—tempat singgah favorit untuk menuntaskan lapar.
Tapi jarang yang menyadari, di balik nama itu tersimpan kisah seorang pemuda yang rela mati demi mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diraih bangsanya.
Namanya Ranggong Daeng Romo. Lahir pada 1915 di Polongbangkeng, Takalar, ia tumbuh menjadi sosok yang kelak dikenang sebagai Pahlawan Nasional—dan namanya diabadikan menjadi salah satu ruas jalan ramai di Makassar.
Kisahnya bermula tak lama setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945. Alih-alih euforia berakhir dengan kemerdekaan yang aman, ancaman datang dari Belanda yang berupaya kembali menguasai Sulawesi Selatan.
Ranggong tak tinggal diam. Pada 16 Oktober 1945, ia memimpin pembentukan Angkatan Muda Bajeng, yang kemudian bertransformasi menjadi Gerakan Muda Bajeng (GMB)—salah satu kekuatan perjuangan rakyat yang cukup disegani di wilayah Bajeng dan sekitarnya.
Perjuangan itu terus bergulir. April 1946, GMB berkembang menjadi Laskar Lipan Bajeng, dan Ranggong dipercaya memimpinnya.
Namanya kian dikenal ketika ia turut membesarkan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), wadah perjuangan bersenjata yang menghimpun kekuatan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan di tanah Sulawesi Selatan.
Di medan pertempuran, Ranggong dikenal sebagai pemimpin yang berani turun langsung. Salah satu aksinya yang tercatat dalam sejarah terjadi pada 21 Februari 1946, saat ia memimpin serangan ke pertahanan Belanda di Pappu, Takalar.
Setelah itu, sejumlah pertempuran lain menyusul di berbagai wilayah yang menjadi basis perjuangan Laskar Lipan Bajeng.
Namun perjuangan panjang itu harus berakhir tragis. Pada 27 Februari 1947, Ranggong gugur di medan laga saat pasukan LAPRIS berusaha mempertahankan wilayahnya dari gempuran Belanda.
Bertahun-tahun kemudian, jasanya diakui negara lewat Keputusan Presiden Nomor 109/TK/2001 yang menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional.
Kini, jejak perjuangan Ranggong tak lagi hanya tersimpan rapi di buku-buku sejarah. Namanya hidup dan disebut berkali-kali setiap hari—oleh orang-orang yang sekadar menyebut alamat, memberi arah, atau mampir makan siang.
Pemerintah Kota Makassar sendiri menegaskan bahwa penamaan jalan ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari upaya menjaga ingatan kolektif terhadap para pejuang bangsa.
Maka, lain kali melintasi Jalan Ranggong, mungkin ada baiknya berhenti sejenak untuk mengingat, di balik deretan warung yang menggugah selera itu, tersimpan nama seorang pemuda dari Polongbangkeng yang memilih mengangkat senjata, bertaruh nyawa, dan akhirnya gugur demi kemerdekaan yang kini bisa dinikmati generasi setelahnya.
